NATIVZEN.com – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar menjawab perintah, AI generasi terbaru hadir dalam bentuk AI agentik—sistem cerdas yang mampu bernalar, merencanakan, hingga mengambil tindakan secara mandiri di berbagai sistem.
Transformasi ini tentunya menjanjikan sebuah lompatan yang terbilang besar dalam produktivitas, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru, yakni “Apakah infrastruktur AI saat ini sudah siap?”
Berbeda dari AI konvensional, AI agentik bekerja layaknya asisten digital otonom. Ia tak hanya memberi rekomendasi, tetapi juga mengeksekusinya—mulai dari memesan tiket, mengatur jadwal, hingga menyesuaikan rencana secara real-time.

Konsekuensinya, kebutuhan komputasi melonjak drastis. Dunia seolah menambahkan miliaran “pengguna virtual” ke dalam sistem komputasi global, menuntut infrastruktur yang jauh lebih kuat, fleksibel, dan terukur.
Menurut Alexey Navolokin, General Manager APAC AMD, era AI berbasis agen menuntut desain sistem yang tidak lagi bergantung pada satu komponen saja. Infrastruktur AI modern harus mengintegrasikan CPU, GPU, jaringan, dan memori secara harmonis.
Optimalisasi di tingkat rak—di mana komputasi, penyimpanan, dan jaringan dirancang secara terpadu—menjadi kunci untuk menghadirkan performa tinggi sekaligus efisiensi energi. Tentunya, ini menjadi sebuah tantangan!
AI Bukan Hanya Soal GPU
Selama ini, GPU kerap dianggap sebagai “bintang utama” dalam pengembangan AI. Namun di balik layar, CPU memegang peran krusial dalam mengelola alur data, memori, hingga koordinasi beban kerja.
Bahkan, banyak beban kerja AI—termasuk model bahasa berukuran menengah, sistem rekomendasi, hingga deteksi penipuan—dapat berjalan efisien hanya dengan CPU berkinerja tinggi seperti AMD EPYC™ 9005 Series.
Seiring model AI berkembang menjadi lebih modular, kebutuhan akan orkestrasi sumber daya yang cerdas semakin penting. Di sinilah konektivitas berkecepatan tinggi dan jaringan cerdas berperan sebagai “perekat” yang menyatukan seluruh sistem AI agar tetap responsif dan andal.
Mengapa Keterbukaan Jadi Faktor Penentu
Di tengah persaingan global AI, keterbukaan muncul sebagai strategi penting. Ekosistem tertutup berisiko menciptakan ketergantungan vendor dan membatasi inovasi. Karena itu, pendekatan open ecosystem—baik di level software maupun hardware—dinilai semakin relevan.
Oleh karena itu, AMD menyoroti pentingnya ROCm, platform open software yang mendukung framework populer seperti PyTorch dan TensorFlow, sekaligus memberi fleksibilitas bagi pengembang untuk membangun dan mengoptimalkan AI lintas platform.
Di level sistem, standar terbuka seperti Open Compute Project (OCP), UALink, dan Ultra Ethernet Consortium (UEC) mendorong interoperabilitas dan skalabilitas infrastruktur AI alias kecerdasan buatan di masa depan
Menuju 2026 dan Era AI Multi-Agen
Melihat ke depan, AI agentik akan mengubah cara industri, pemerintah, hingga masyarakat bekerja. Fokus infrastruktur pun harus melampaui GPU, mencakup CPU berkinerja tinggi, interkoneksi cepat, serta jaringan cerdas yang terintegrasi dari edge hingga cloud.
Sebagai bagian dari visi tersebut, AMD saat ini tengah menyiapkan “Helios”. Ini adalah desain referensi infrastruktur AI skala rak generasi berikutnya yang akan dijadwalkan hadir pada tahun 2026.
Solusi ini dirancang untuk menjawab tuntutan AI multi-agen dengan pendekatan terbuka, heterogen, dan siap diskalakan. Lebih dari sekadar pilihan teknologi, membangun infrastruktur AI yang terbuka dan adaptif kini menjadi fondasi strategis untuk daya saing kedepannya.
Di era ketika AI menjadi penggerak utama inovasi dan produktivitas, kesiapan infrastruktur tentunya akan menentukan siapa yang memimpin—dan siapa yang tertinggal. Dan itulah pentingnya AI multi-agen di masa depan.







