NATIVZEN.com – Mengingat tingginya pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan alias AI, termasuk layanan ChatGPT di kalangan mahasiswa, pebisnis maupun profesional, Telkomsel telah merilis paket bundling ChatGPT Go sejak awal November 2025.
Pertama di Asia Tenggara, paket Promo Bundling Telkomsel x ChatGPT Go ini dimulai dengan harga Rp 50 ribu, di mana pelanggan bisa mengakses paket data khusus untuk akses aplikasi ChatGPT dan langganan ChatGPT Go.
Gamma Aditya, Manager SIMPATI Telco Product Growth and Innovation Telkomsel yang hadir sebagai pembicara dalam seminar “Etika AI di Media Sosial” yang digelar di kampus Politeknik Tempo, (26/11) menerangkan bahwa paket Bundling ChatGPT Go menawarkan harga terjangkau.

“Cuma Telkomsel yang pertama kali bekerjasama dengan OpenAI (ChatGPT). Kita jual jauh di bawah harga market. Harga normal dari layanan premium ChatGPT bisa mencapai Rp 300 ribu lebih,” jelas Gamma Aditya.
Oleh karena itu, paket bundling ChatGPT Go dari Telkomsel bisa menjadi angin segar bagi mereka yang ingin menggunakan ChatGPT versi berbayar, tetapi tentunya dengan harga yang lebih murah.
Nah menariknya! Ingin berbagi user experience, Telkomsel yang menjadi sponsor utama seminar “Etika AI di Media Sosial” ini pun berbagi voucher paket bundling ChatGPT Go secara cuma-cuma kepada para peserta (pengguna nomor Telkomsel) seminar yang hadir.
ChatGPT Go memberi akses lebih luas ke fitur favorit ChatGPT, termasuk:
- Batas pesan dengan GPT-5 hingga 10× lebih banyak
- Pembuatan gambar per hari hingga 10× lebih banyak
- Unggah file atau gambar per hari hingga 10× lebih banyak
- Memori percakapan 2× lebih panjang untuk respons yang lebih personal
Oleh karena itu, akses ke ChatGPT Go yang dihadirkan melalui paket bundling dari Telkomsel ini diharapkan mampu mendorong penggunaan tools AI untuk hal-hal positif sehingga membuka peluang baru dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Gamma juga menyampaikan bahwa AI kini sudah menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Disadari atau tidak, aplikasi yang biasa digunakan setiap hari seperti Google
Maps, Face Recognition hingga E-Commerce pun sejatinya telah memakai teknologi AI.
Walaupun memiliki manfaat positif, Gamma pun menekankan bahwa teknologi AI ini juga mempunyai sisi negatif jika tidak digunakan dengan bijak, seperti penipuan suara, menciptakan konten palsu hingga memanipulasi informasi.
Menurutnya, di antara etika AI yang bisa kita jalankan, selalu verifikasi informasi, menggunakan AI untuk hal yang baik, tidak merugikan orang lain, menjaga informasi pribadi, tidak menyebar data pribadi orang lain, serta transparansi dan bertanggung jawab.
“Saat memanfaatkan AI, kita juga harus memperhatikan ranah privasi dan keamanan data serta sesuai izin dan regulasi. AI ini ada, manfaatkan sebaik-baiknya. Kita harus hidup damai bersama AI dan jangan sampai AI mengurangi jiwa kritis kita,” pungkas Gamma.







