NATIVZEN.com – Kalau kita perhatikan tren smartphone belakangan ini, ada satu kata yang hampir mustahil buat dihindari: AI. Mulai dari kelas flagship sampai yang terjangkau, semua brand mendadak berlomba-lomba memasang label kecerdasan buatan.
Tapi jujur saja, sebagai konsumen, pernah nggak sih kita ngerasa kalau AI di smartphone itu sering kali cuma jadi gimmick marketing biar jualan makin laku? Wajar banget kalau publik akhirnya skeptis dengan AI.
Di tengah gempuran istilah teknologi yang makin rumit, kita sebenarnya cuma butuh satu hal simpel: HP yang kencang, baterai awet, dan fitur yang beneran ngebantu hidup sehari-hari, bukan fitur canggih yang cuma dipakai sekali pas unboxing lalu dilupakan.

Menurut Sergio Ticoalu, Southeast Asia Marketing Director Infinix, perkembangan AI di smartphone seharusnya tidak hanya berfokus pada kecanggihan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan pengalaman yang relevan bagi pengguna.
“User sebenarnya tidak terlalu peduli apakah sebuah fitur menggunakan AI atau tidak. Yang penting adalah apakah teknologi itu membantu kehidupan sehari-hari mereka secara nyata,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu arah yang kini mulai banyak diadopsi industri smartphone, termasuk oleh Infinix melalui pengembangan NOTE 60 Series. Fokusnya bukan lagi sekadar menghadirkan spesifikasi tinggi di atas kertas.
Oleh karena itu, Infinix melalui kehadiran NOTE 60 Series ingin memastikan pengalaman penggunaan smartphone tersebut bisa terasa lebih stabil, responsif, dan seamless dalam berbagai aktivitas harian.
Di sisi lain, perkembangan AI di smartphone juga semakin bergantung pada kemampuan hardware, khususnya chipset. Teknologi AI modern membutuhkan processing power yang tinggi agar dapat berjalan cepat dan real-time langsung di perangkat atau on-device AI.
Sementara itu, Robiat Fahlevie, Marketing Manager Qualcomm Indonesia menjelaskan bahwa performa chipset yang ada di dalam sebuah smaretphone kini menjadi fondasi utama dalam menghadirkan pengalaman AI yang optimal.
“AI membutuhkan processing power yang besar. Karena itu, performa chipset menjadi fondasi utama agar fitur AI bisa berjalan optimal tanpa mengorbankan efisiensi daya maupun responsivitas perangkat,” jelasnya.
Melalui penggunaan Snapdragon 7s Gen 4 pada NOTE 60 Pro, Infinix mencoba menghadirkan keseimbangan antara performa, efisiensi daya, dan kemampuan AI yang lebih relevan untuk penggunaan sehari-hari.
Bukan hanya dari sisi hardware, evolusi AI juga terlihat dari bagaimana sistem operasi pada sebuah smartphone kini berkembang menjadi lebih personal dan adaptif terhadap kebiasaan pengguna.
Axellio Vincent, Product Manager OS, menjelaskan bahwa AI saat ini bukan lagi sekadar label “AI- powered”, tetapi bagaimana sistem mampu memahami konteks penggunaan secara lebih natural.
Lewat XOS 16 dan Infinix AI Assistant (Folax), pengalaman smartphone dikembangkan agar dapat membantu aktivitas sehari-hari secara lebih seamless, mulai dari produktivitas hingga personalisasi pengalaman pengguna.
“AI alias kecerdasan buatan yang tertanam di dalam sebuah ponsel pintar seharusnya bisa terasa lebih natural. Bukan fitur yang hanya dicoba sekali lalu dilupakan oleh kebanyakan pengguna,” ungkap Axellio.
Perspektif serupa juga disampaikan oleh reviewer teknologi Romi Hidayat, Droidlime. Menurutnya, pengguna saat ini semakin kritis terhadap fitur AI di smartphone dan lebih menghargai fitur yang manfaatnya langsung terasa.
“Pada akhirnya, performa tetap menjadi fondasi utama pada sebuah smartphone. Sementara itu, AI hanya nilai tambah, tapi experience yang smooth dan konsisten tetap jadi yang paling penting bagi user,” jelas Romi.
Meski AI diprediksi akan terus berkembang di industri smartphone, para pelaku industri mulai sepakat bahwa masa depan AI bukan terletak pada seberapa sering istilah tersebut digunakan, tetapi seberapa meaningful teknologi tersebut bagi pengguna.
AI diperkirakan akan berkembang menjadi lebih personal, lebih seamless, dan semakin terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari. Namun pada akhirnya, pengguna tetap mencari pengalaman yang sederhana, responsif, dan benar-benar membantu.
“Yang paling penting bukan seberapa sering brand menyebut AI dalam sebuah perangkat yang ditawarkan, tapi apakah user atau pengguna sudah benar-benar merasakan manfaatnya,” tutup Sergio Ticoalu.







