NATIVZEN.com – Ancaman ransomware yang semakin meningkat membuat perusahaan perlu memperkuat strategi perlindungan dan pemulihan data. Namun, memiliki sistem backup saja ternyata belum cukup.
Berdasarkan survei Synology, hanya sekitar dua dari sepuluh perusahaan di Indonesia yang sangat yakin mampu memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware, sekaligus memastikan data backup tetap terlindungi.
Temuan tersebut menyoroti pentingnya strategi ketahanan siber yang tidak hanya berfokus pada pencegahan serangan, tetapi juga memastikan perusahaan dapat kembali beroperasi ketika insiden terjadi.

Di tengah lingkungan teknologi informasi (TI) yang semakin kompleks, perusahaan menggunakan beragam solusi untuk melindungi perangkat, jaringan, layanan cloud, sistem backup, hingga pemantauan keamanan.
Namun, penggunaan berbagai perangkat keamanan secara terpisah belum tentu menjamin ketahanan bisnis apabila infrastruktur backup masih menghadapi risiko yang sama dengan sistem produksi utama.
Backup Saja Tidak Cukup untuk Menghadapi Ransomware
Serangan ransomware dapat mengganggu operasional perusahaan dengan mengenkripsi data dan membuat sistem tidak dapat diakses. Dalam kondisi tertentu, infrastruktur backup yang terhubung atau berada di lingkungan keamanan yang sama juga berpotensi terdampak.
Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa salinan data yang dimiliki tidak mudah diubah, dienkripsi, atau dihapus oleh pihak yang tidak berwenang. Tentunya saja strategi yang tepat sangat diperlukan.
Strategi perlindungan data yang lebih menyeluruh mencakup penyimpanan beberapa salinan backup di lokasi berbeda, penggunaan teknologi immutable backup, serta pengujian pemulihan data secara berkala.
Immutable backup memungkinkan data cadangan dilindungi agar tidak dapat diubah atau dihapus selama periode perlindungan yang ditentukan. Sementara itu, pendekatan air-gap membantu memisahkan salinan backup dari jaringan utama.
Strategi tersebut akan mengurangi risiko penyebaran serangan ke lingkungan pemulihan. Oleh karena itu, salah satu strategi yang dapat diterapkan oleh sejumlah perusahaan adalah metode backup 3-2-1-1-0.
Pendekatan ini secara umum menganjurkan tiga salinan data, penyimpanan pada dua jenis media berbeda, satu salinan di lokasi lain, satu salinan yang terisolasi atau immutable, serta nol kesalahan yang belum terselesaikan setelah proses verifikasi pemulihan.
Dengan strategi tersebut, perusahaan memiliki alternatif pemulihan apabila sistem utama tidak lagi dapat digunakan. Pada akhirnya, operasional perusahaan masih bisa berjalan dengan lancar seperti biasanya.
Synology Hadirkan ActiveProtect untuk Perlindungan Terpusat
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Synology mengembangkan ActiveProtect sebagai perangkat backup khusus yang dirancang untuk memusatkan perlindungan data sekaligus memisahkan infrastruktur pemulihan dari sistem produksi utama.
Melalui ActiveProtect, perusahaan dapat mengelola backup secara terpusat dengan dukungan perlindungan immutable dan kemampuan isolasi dalam satu platform. Pendekatan ini ditujukan untuk membantu perusahaan mengurangi kompleksitas pengelolaan backup.

Ini juga sekaligus meningkatkan kesiapan perusahaan dalam menghadapi insiden siber. Synology juga memperluas kompatibilitas ActiveProtect Manager 2.0 terhadap lingkungan virtualisasi perusahaan, termasuk Nutanix AHV dan Proxmox VE.
Dukungan tersebut memberikan lebih banyak pilihan bagi perusahaan yang menggunakan beragam infrastruktur virtualisasi. Selain itu, solusi ini dirancang untuk mendukung kebutuhan pemulihan data pada lingkungan on-premise maupun cloud.
ActiveProtect DP5200 untuk Infrastruktur Perusahaan Tersebar
Selain pengembangan perangkat lunak, Synology turut memperluas lini ActiveProtect melalui DP5200. Perangkat backup berukuran ringkas 1U ini dirancang untuk perusahaan yang memiliki infrastruktur tersebar di berbagai lokasi.
Kehadiran perangkat tersebut memberikan pilihan bagi perusahaan yang membutuhkan sistem backup khusus tanpa harus mengandalkan infrastruktur produksi utama sebagai satu-satunya lingkungan pemulihan.
Dengan memisahkan sistem backup dari lingkungan produksi, perusahaan dapat membangun lapisan perlindungan tambahan untuk mengurangi risiko kehilangan akses terhadap data ketika serangan siber terjadi.
Seperti dijelaskan oleh Sales Manager Synology, Joshua Nathanael bahwa kepemilikan backup tidak otomatis menjamin data dapat dipulihkan saat terjadi serangan. Menurutnya, ActiveProtect menggabungkan immutable backup, isolasi, dan pengelolaan pemulihan terpusat dalam satu perangkat khusus.
Ketahanan Siber Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis
Temuan survei Synology juga menunjukkan bahwa kesiapan menghadapi ransomware masih menjadi tantangan bagi perusahaan di Indonesia. Kemampuan memulihkan data dengan cepat bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan operasional dan kemampuan bisnis meminimalkan dampak serangan.
Perusahaan perlu mengevaluasi strategi backup secara berkala, memastikan salinan data terlindungi dari manipulasi, serta menguji prosedur pemulihan untuk mengetahui apakah sistem benar-benar dapat digunakan ketika dibutuhkan.
Pada akhirnya, ketahanan siber tidak cukup dibangun dengan mengandalkan satu lapisan keamanan. Kombinasi antara pencegahan, backup yang terisolasi, perlindungan immutable, dan pengujian pemulihan menjadi bagian penting untuk menjaga data serta memastikan bisnis dapat kembali berjalan setelah insiden ransomware.







