<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>asia pasifik &#8211; NativZen</title>
	<atom:link href="https://nativzen.com/tag/asia-pasifik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nativzen.com</link>
	<description>Berita gadget dan teknologi terbaru</description>
	<lastBuildDate>Tue, 19 May 2026 23:10:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/02/cropped-NZ_icon_no_BG-32x32.png</url>
	<title>asia pasifik &#8211; NativZen</title>
	<link>https://nativzen.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Cove Hadirkan Fitur Sosial Secara Serentak di Asia Pasifik</title>
		<link>https://nativzen.com/2026/05/20/cove-hadirkan-fitur-sosial-secara-serentak-di-asia-pasifik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 May 2026 23:09:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[APPS]]></category>
		<category><![CDATA[asia pasifik]]></category>
		<category><![CDATA[community-first]]></category>
		<category><![CDATA[cove]]></category>
		<category><![CDATA[fitur sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=28723</guid>

					<description><![CDATA[Pertama di Indonesia, antar penghuni co-living dapat saling terkoneksi di ruang digital.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Meski kemajuan lanskap digital telah mempermudah koneksi, rasa kesepian tidak serta-merta ikut berkurang. Menurut laporan WHO tahun 2025, hampir 1 dari 6 orang di dunia merasa kesepian, dengan prevalensi tertinggi pada kalangan anak muda. </p>



<p>Bagi anak muda yang tengah merantau dan tinggal sendiri, rasa sepi ini dapat menjadi lebih kuat. Melihat kebutuhan yang terus tumbuh akan koneksi, Cove, penyedia hunian co-living modern berbasis komunitas di Asia Pasifik, meluncurkan community-first Cove App.</p>



<p>Ini menjadi pembaruan yang paling signifikan sejak awal operasinya. Melalui pembaruan ini, Cove menghadirkan fitur media sosial pertama dalam aplikasi co-living di Indonesia, mengintegrasikan seluruh kebutuhan hunian dan koneksi komunitas penghuni ke dalam satu platform.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-1024x576.jpg" alt="" class="wp-image-28724" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-1024x576.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-300x169.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-768x432.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-1536x864.jpg 1536w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-370x208.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-270x152.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-570x321.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch-740x416.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/Community-first-Cove-App-Launch.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Pembaruan ini turut diluncurkan secara serentak di Asia Pasifik. Melalui satu aplikasi, seluruh penghuni Cove dapat beralih antara Indonesia, Singapura, Jepang, dan Korea Selatan untuk melihat ketersediaan properti, merencanakan hunian, hingga terhubung dengan komunitas lokal di masing-masing negara.</p>



<p>“Komunitas di Cove sudah terbentuk jauh sebelum pembaruan aplikasi ini ada, baik di area<br>komunal properti, acara komunitas yang kami adakan, hingga pertemanan yang tumbuh<br>antarpenghuni,&#8221; jelas Dian Paskalis, Country Director of Growth &amp; VP of Online Marketing, Cove</p>



<p>Ia menambahkan bahwa faktanya, 98% penghuni Cove merasa aktivitas komunitas mampu mendorong mereka untuk memperpanjang masa sewa. Sementara, dengan kehadiran community-first Cove App, koneksi bisa terjalin kapanpun dan di manapun. </p>



<p>Dalam 14 acara komunitas yang dilangsungkan Cove di Indonesia selama 2025, 3 dari 4 penghuni yang berpartisipasi bahkan memberikan rating tertinggi untuk kepuasan pengalaman mereka, menggarisbawahi keselarasan upaya pengembangan komunitas dalam lingkup hunian co-living. </p>



<p>Berkaca dari itu, dari fokus kegunaan semulanya untuk menjelajahi portofolio co-living, community-first Cove App kini memperkenalkan sejumlah fitur terobosan yang berfokus pada pengelolaan hunian dan pengembangan komunitas:</p>



<ul>
<li><strong>Pengelolaan hunian dalam genggaman, mulai dari pembayaran hingga kontrak</strong></li>
</ul>



<p>Para penghuni Cove kini dapat mengelola hunian co-living mereka secara lebih praktis dari ponsel mereka. Setelah finalisasi kontrak sewa, penghuni dapat melihat seluruh riwayat<br>tagihan dan melakukan pembayaran sewa secara langsung di aplikasi Cove. </p>



<p>Tidak hanya itu, penghuni juga dapat mengecek kontrak sewa mereka dan mengajukan permohonan perpanjangan jangka sewa, penambahan penghuni, maupun pengakhiran masa sewa.</p>



<p>Selain keperluan sewa bulanan, aplikasi Cove juga dapat digunakan untuk keperluan pemesanan kamar harian, menggabungkan pengelolaan kebutuhan hunian co-living dan akomodasi perjalanan pelanggan dalam satu tempat.</p>



<ul>
<li><strong>Tunjukkan siapa dirimu melalui profil publik</strong></li>
</ul>



<p>Penghuni Cove dapat membangun profil publik mereka agar dapat lebih mudah dikenali oleh<br>penghuni lainnya. Dalam fitur ini, penghuni dapat menambahkan foto profil, profesi, usia, deskripsi diri, ketertarikan, dan tautan media sosial. </p>



<p>Fitur ini juga dapat membantu mereka untuk terkoneksi dengan penghuni lain yang memiliki<br>latar belakang dan minat yang serupa. Namun pada saat yang sama, Cove tetap mengutamakan keamanan informasi pribadi.</p>



<p>Profil publik ini tidak akan menunjukkan nama belakang, dan hanya akan menunjukkan<br>rentang usia penghuni kepada pengguna lainnya. Penghuni juga dapat menentukan nama<br>yang ingin ditampilkan, terlepas dari nama dalam kontrak sewa mereka.</p>



<ul>
<li><strong>Kenali tetangga co-livingmu, siap berkenalan tanpa canggung</strong></li>
</ul>



<p>Ketika pindah ke co-living baru, membangun koneksi dengan para tetangga akan semakin mudah dengan fitur Flatmates. Penghuni kini dapat melihat siapa saja tetangga di properti yang mereka tinggali, melalui foto profil, nama depan, rentang usia, dan profesi dari penghuni lainnya.</p>



<p>Menariknya lagi, fitur ini hanya bisa diakses ketika seorang penghuni sudah memulai masa tinggal mereka suatu properti, dan tidak bisa dilihat oleh penghuni dari properti lain. Hal ini tentunya juga untuk menjaga privasi.</p>



<ul>
<li><strong>Ceritakan keseharianmu ke komunitas Cove dan nantikan reaksi mereka</strong></li>
</ul>



<p>Melalui fitur Community Posts, Cove menghadirkan fitur media sosial pertama dalam aplikasi co-living di Indonesia. Penghuni kini dapat mengunggah tulisan dan foto, berkomentar, dan memberikan reaksi emoji ke satu sama lain.</p>



<p>Penghuni juga dapat menyaring konten dari penghuni lain sesuai ketertarikan mereka, sehingga koneksi dapat terjalin secara lebih relevan dan personal. Selain itu, fitur ini juga digunakan oleh tim komunitas Cove untuk membagikan pengumuman kepada seluruh penghuni.</p>



<ul>
<li><strong>Cek jadwal acara komunitas di sekitarmu, temui teman-teman baru</strong></li>
</ul>



<p>Penghuni dapat menemukan dan mendaftarkan diri dalam aktivitas komunitas Cove secara langsung dari aplikasi melalui fitur Community Events, mulai dari sesi olahraga, workshop kreatif, hingga social gathering. </p>



<p>Dengan fitur baru ini, pengalaman komunitas Cove kini tersedia di dalam genggaman penghuni dalam satu aplikasi yang sama dan bisa diakses secara real-time sehingga bisa lebih mudah untuk menemukannya.</p>



<p>Melalui pembaruan dalam community-first Cove App, Cove berupaya untuk tidak hanya mempermudah pengelolaan sewa hunian, namun juga membangun komunitas. Penghuni dapat menikmati seluruh fitur terbaru ini dengan memperbarui aplikasi Cove mereka.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>APAC DNS Forum 2024 akan Segera Digelar di Bali</title>
		<link>https://nativzen.com/2024/05/17/apac-dns-forum-2024-akan-segera-digelar-di-bali/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 May 2024 13:01:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[NEWS]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[asia pasifik]]></category>
		<category><![CDATA[dns]]></category>
		<category><![CDATA[ICANN]]></category>
		<category><![CDATA[pandi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=7571</guid>

					<description><![CDATA[ICANN dan PANDI akan menggelar APAC DNS Forum 2024 yang akan digelar di Pulau Dewata, Bali pada bulan Juni nanti.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; The Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) dan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) akan menyelenggarakan Forum Domain Name System (DNS) kawasan Asia Pasifik (APAC) di Bali, Indonesia, pada 23-24 Juli 2024. </p>



<p>ICANN adalah sebuah organisasi non-profit internasional yang mengoordinir DNS serta memainkan peran kunci dalam pengoperasian dan keamanan internet global. Sementara itu, PANDI adalah Registri Nama Domain berkode negara Indonesia yakni .id.</p>



<p>Mengambil tema Building Bridges: Strengthening Collaboration to Shape the Internet’s Future, para pemangku kepentingan internet internasional dan regional akan berkumpul dalam acara APAC DNS Forum 2024 di Bali untuk menjajaki penguatan kerja sama.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="587" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-1024x587.jpg" alt="" class="wp-image-7572" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-1024x587.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-300x172.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-768x440.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-370x212.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-270x155.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-570x327.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1-740x424.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/PANDI-2-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Selain itu, Forum ini juga diharapkan dapat meraih peluang dari internet dan menghadapi tantangan yang akan terjadi. Sebagai tulang punggung teknikal, DNS menyokong berfungsinya internet global serta membentuk perwajahan peluang dan inovasi yang ada. </p>



<p>Terpeliharanya DNS yang terus menjalankan peran krusialnya di masa depan, tergantung pada kohesi dan kolaborasi antara industri, teknologi dan pemangku kepentingan. Tanpa adanya kerja sama, interoperabilitas internet yang bersifat global dapat saja terancam.</p>



<p>Perluasan sektor nama domain diharapkan bisa membuka peluang ekonomi dan menghilangkan batasan Bahasa untuk menghubungkan yang belum terhubung. Forum ini juga mengeksplorasi bagaimana kawasan APAC dapat berkontribusi dalam transformasi digital. </p>



<p>Selain itu, Forum ini juga akan menjangkau pembahasan tentang pengaruh dari inisiatif legislasi dan regulasi terkait internet serta pentingnya model pemangku kepentingan dalam hal tata kelola internet.</p>



<p>“Sejalan dengan tema tahun ini, PANDI dan ICANN berperan sebagai penghubung antara Indonesia, ekosistem internet global, dan komunitas internet regional,&#8221; ujar John Sihar Simanjuntak, Ketua PANDI.</p>



<p>Ditambahkan oleh John bahwa kolaborasi dan kerja sama seperti ini sangat penting untuk masa depan dari internet. Forum ini secara istimewa juga akan menyajikan diskursus yang krusial untuk internet di masa depan.</p>



<p>Dengan mitra regional, ICANN telah menyelenggarakan DNS Forum di Afrika, Eropa Timur dan Asia Tengah, Amerika Latin dan Karibia, Timur Tengah – dengan tujuan yang sama &#8211; untuk kolaborasi, jaringan, dan pertukaran ide tentang industri nama domain dan masa depan internet.</p>



<p>“Kami sangat bangga memboyong kegiatan APAC DNS Forum ini ke Indonesia untuk melanjutkan keberhasilan format regional ini,” ungkap Jia-Rong Low, Vice President and Managing Director of ICANN APAC. </p>



<p>APAC DNS Forum 2024 akan diselenggarakan secara hybrid di The Westin Resort Nusa Dua, Bali, Indonesia. Pendaftaran dapat dilakukan bagi peserta luring dan daring. Menjelang APAC DNS Forum 2024 ini, sebanyak 4 pre-event webinar akan diselenggarakan di bulan Juni dan Juli 2024.</p>



<p>ICANN dan PANDI membuka kesempatan bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat untuk memberikan sponsor dan mendaftarkan diri. Informasi lebih lengkap tentang APAC DNS Forum 2024 dapat diakses dengan mengunjungi tautan situs resmi <a href="http://www.apacdnsforum.id/"><u>www.apacdnsforum.id</u></a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>83% Pekerja Profesional di Asia Pasifik Telah Memakai AI</title>
		<link>https://nativzen.com/2024/05/13/83-pekerja-profesional-di-asia-pasifik-telah-memakai-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 May 2024 04:07:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[ai]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[asia pasifik]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan buatan]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja profesional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=7359</guid>

					<description><![CDATA[Data terbaru menunjukkan bahwa karyawan di Asia Pasifik menggunakan AI untuk meningkatkan keterampilan mereka.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Microsoft dan LinkedIn telah merilis&nbsp;<a href="https://aka.ms/WTI24" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Indeks Tren Kerja 2024</a>&nbsp;mengenai kondisi AI alias kecerdasan buatan di tempat kerja yang berjudul&nbsp;“AI di tempat kerja sudah hadir, sekarang masuk ke bagian yang sulit”.</p>



<p>Penelitian ini didasarkan pada survei terhadap 31.000 orang di 31 negara, tren tenaga kerja dan perekrutan di LinkedIn, triliunan sinyal produktivitas Microsoft 365, serta penelitian terhadap pelanggan Fortune 500 yang menyangkut bagaimana AI memengaruhi cara orang bekerja.</p>



<p>Tahun 2024, AI begitu dimaksimalkan di tempat kerja. Penggunaan AI generatif di tempat kerja meningkat hampir dua kali lipat dalam enam bulan terakhir. LinkedIn melihat adanya peningkatan yang signifikan dalam jumlah profesional yang menambahkan keterampilan AI ke profil mereka.</p>



<p>Sebagian besar pemimpin perusahaan mengatakan bahwa mereka tidak akan mempekerjakan seseorang yang tidak memiliki keterampilan AI. Namun, banyak pemimpin di Asia khawatir bahwa perusahaan mereka kekurangan visi AI.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="494" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-1024x494.jpg" alt="" class="wp-image-7360" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-1024x494.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-300x145.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-768x371.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-370x179.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-270x130.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-570x275.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-740x357.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Di sisi lain, ada karyawan yang membawa tools AI mereka sendiri ke tempat kerja, pemimpin perusahaan berada di posisi yang sulit dari gangguan teknologi. Tentunya, hal itu dapat berdampak pada bisnis mereka.</p>



<p>Seperti dijelaskan oleh Ahmed Mazhari, President of Microsoft Asia bahwa perkembangan AI generatif di tempat kerja sangat luar biasa. Karyawan semakin cepat dan inovatif dalam mengadopsi teknologi ini, bahkan sebelum menunggu arahan dari perusahaan mereka. </p>



<p>&#8220;Terkait dengan perkembangan AI generatif yang begitu masif, para pemimpin perusahaan perlu lebih terbuka untuk mencoba dengan cepat agar bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam industri tempat mereka bekerja,&#8221; kata&nbsp;Mazhari.</p>



<p>Laporan Indeks Tren Kerja mengungkapkan tiga wawasan penting yang perlu diketahui oleh setiap pemimpin perusahaan dan profesional di Asia Pasifik mengenai bagaimana AI memengaruhi pekerjaan dan pasar kerja di tahun-tahun mendatang:</p>



<h3 class="wp-block-heading">Karyawan menginginkan AI di tempat kerja</h3>



<p>Di tempat kerja, sebanyak 83% profesional di Asia Pasifik telah menggunakan AI. Banyak dari mereka yang berjuang untuk mengimbangi kecepatan dan volume pekerjaan, mengatakan bahwa AI menghemat waktu, dan meningkatkan kreativitas.</p>



<p>Meskipun 84% pemimpin di Asia Pasifik percaya bahwa perusahaan mereka perlu mengadopsi AI agar tetap kompetitif, 61% khawatir bahwa kepemimpinan mereka tidak memiliki rencana dan visi untuk mengimplementasikannya. </p>



<p>Hal ini menjadi salah satu faktor karyawan mengambil inisiatif sendiri. 79% pekerja AI di Asia Pasifik membawa dan menggunakan tools AI generatif mereka sendiri ke tempat kerja, sehingga mereka kehilangan manfaat dari penggunaan AI dalam skala besar.</p>



<p>Selain itu, langkah yang mereka lakukan juga membahayakan data perusahaan. Padahal pemimpin perusahaan sebenarnya dapat memanfaatkan momentum AI ini sebagai investasi untuk jangka panjang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi karyawan, AI meningkatkan standar dan mendobrak batasan karier:</h3>



<p>Mayoritas pemimpin perusahaan di global (55%) khawatir tentang ketersediaan talenta yang cukup untuk mengisi berbagai posisi di tahun ini, terutama di bidang keamanan siber, teknik, dan desain kreatif.</p>



<p>Tercatat, 76% pemimpin peruasahaan di Asia Pasifik mengatakan bahwa mereka lebih memilih mempekerjakan kandidat yang kurang berpengalaman namun memiliki keterampilan AI daripada kandidat yang lebih berpengalaman namun tidak memiliki keterampilan tersebut.&nbsp;</p>



<p>Sejak akhir tahun lalu, LinkedIn juga telah melihat adanya peningkatan hingga 142x lipat, di mana membernya secara global telah menambahkan keterampilan AI, seperti ChatGPT dan Copilot ke profil LinkedIn mereka.</p>



<p>Penyebutan AI alias kecerdasan buatan dalam postingan lowongan kerja di LinkedIn juga meningkatkan pertumbuhan aplikasi sebesar 17%. Hal ini tentunya memberikan gambaran bahwa keterampilan AI memang benar-benar sangat dibutuhkan.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Kebangkitkan pengguna AI, dan masa depannya</strong></h3>



<p>Pengguna AI dari Microsoft telah mengubah orientasi hari kerja mereka, menghemat 30 menit per hari. 88% pengguna di APAC menjalankan hari kerja mereka dengan AI, menggunakan AI untuk memulai pagi dan menyiapkan diri untuk hari kerja berikutnya.</p>



<p>&#8220;Kawasan Asia Pasifik benar-benar bisa menyaksikan perubahan transformatif di tempat kerja karena AI. Hal ini yang mendorong kebutuhan akan pendekatan bisnis yang baru,&#8221; kata&nbsp;Feon Ang, Managing Director, Asia Pacific, LinkedIn. &#8220;</p>



<p>Dengan pesatnya perkembangan ekosistem kita, para pemimpin yang memprioritaskan fleksibilitas dan berinvestasi dalam pengembangan keterampilan akan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan membina tenaga kerja yang siap menghadapi AI. </p>



<p>Sebanyak 76% pemimpin perusahaan di Asia Pasifik bersedia merekrut seseorang yang mungkin kurang berpengalaman dalam AI, namun memiliki kemauan untuk mengembangkan dirinya dengan keterampilan AI. </p>



<p>&#8220;Oleh karena itu, hal ini menekankan urgensi dan pentingnya bagi para profesional untuk fokus pada peningkatan kemampuan AI yang harus mereka miliki. Caranya, bisa di dapatkan melalui pelatihan dan keterampilan,&#8221; pungkas Feon Ang.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
