<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>etika ai &#8211; NativZen</title>
	<atom:link href="https://nativzen.com/tag/etika-ai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nativzen.com</link>
	<description>Berita gadget dan teknologi terbaru</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Jul 2026 03:31:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/02/cropped-NZ_icon_no_BG-32x32.png</url>
	<title>etika ai &#8211; NativZen</title>
	<link>https://nativzen.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Coursera Gandeng UNESCO Hadirkan Kursus Gratis Etika AI</title>
		<link>https://nativzen.com/2026/07/30/coursera-gandeng-unesco-hadirkan-kursus-gratis-etika-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2026 03:31:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[coursera]]></category>
		<category><![CDATA[etika ai]]></category>
		<category><![CDATA[kursus gratis]]></category>
		<category><![CDATA[unesco]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=30489</guid>

					<description><![CDATA[Dikembangkan bersama LG AI Research, kursus ini tersedia dalam 11 bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan dapat diakses secara gratis. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Seiring semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di berbagai sektor di Indonesia, kebutuhan akan pemahaman mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab dan berlandaskan etika juga semakin penting. </p>



<p>Menjawab kebutuhan tersebut, Coursera secara resmi menggandeng UNESCO meluncurkan <a href="https://www.coursera.org/learn/global-mooc-on-the-ethics-of-ai/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Global MOOC on the Ethics of AI</a>, kursus gratis pertama UNESCO yang dikembangkan bersama LG AI Research dan kini tersedia dalam 11 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.</p>



<p>UNESCO telah menetapkan <a href="https://www.unesco.org/en/articles/recommendation-ethics-artificial-intelligence" target="_blank" rel="noreferrer noopener">standar global untuk penggunaan kecerdasan artifisial (AI)</a> yang bertanggung jawab melalui kerangka kerja etika AI pertama di dunia yang telah diadopsi oleh 193 negara. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="556" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-1024x556.png" alt="" class="wp-image-30490" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-1024x556.png 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-300x163.png 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-768x417.png 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-370x201.png 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-270x147.png 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-570x309.png 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1-740x402.png 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/07/Foto-1-Coursera-Berkolaborasi-dengan-UNESCO-Hadirkan-Kursus-Gratis-Etika-AI-dalam-Bahasa-Indonesia-1.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Seiring semakin pesatnya adopsi AI di berbagai sektor, kursus ini membantu pembelajar maupun institusi menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam praktik serta memperkuat pengambilan keputusan yang berlandaskan etika dalam pemanfaatan AI di tingkat global.</p>



<p>&#8220;Prinsip saja tidak cukup untuk membangun AI yang beretika, manusialah yang mewujudkannya. Melalui kursus ini, UNESCO mengambil langkah lanjutan dalam kepemimpinannya di bidang etika AI,&#8221; ujar Prof. Khaled El-Enany, Director General UNESCO.</p>



<p>Lebih lanjut, Khaled menjelaskan bahwa ini dilakuka dengan menerjemahkan Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence menjadi pembelajaran yang praktis, sehingga masyarakat dapat menerapkan prinsip-prinsip etika di setiap tahapan siklus hidup AI.</p>



<p>Sementara, Dr. Lim Woo-hyung, Co-Head LG AI Research menjelaskan bahwa melalui Recommendation on the Ethics of AI dari UNESCO, komunitas internasional telah membangun kesepahaman bersama mengenai seperti apa AI yang beretika. </p>



<p>&#8220;Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerapkannya dalam praktik. Etika perlu diterapkan di setiap tahapan siklus hidup AI, mulai dari pengembangan produk hingga operasional layanan,&#8221; ujar Dr. Lim Woo-hyung.</p>



<p>Kursus terbaru ini membekali peserta dengan kemampuan untuk mengidentifikasi risiko etika, menyeimbangkan berbagai prioritas, serta merumuskan keputusan yang lebih terukur terkait desain, penggunaan, dan tata kelola AI. </p>



<p>Program ini berfokus pada penerapan di dunia nyata dengan materi yang disusun berdasarkan wawasan dari para pakar global di Carnegie Mellon University, University of Toronto, Alan Turing Institute, dan berbagai institusi terkemuka lainnya.</p>



<p>&#8220;UNESCO telah berperan besar dalam merumuskan standar penggunaan AI yang bertanggung jawab. Hari ini, kami sangat bangga dapat menyambut UNESCO di platform Coursera,&#8221; ungkap Marni Baker Stein, Chief Content Officer Coursera.</p>



<p>Kursus gratis ini akan membantu masyarakat dan institusi di seluruh dunia untuk mengambil keputusan yang lebih tepat sasaran terkait AI. Ini sekaligus akan memperluas akses global terhadap pendidikan berkualitas untuk menjawab salah satu tantangan paling krusial saat ini.</p>



<p>Melalui berbagai studi kasus dan latihan berbasis praktik, peserta akan mempelajari cara menerapkan konsep-konsep utama, seperti privasi, transparansi, keberlanjutan, dan otonomi manusia, dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan. </p>



<p>Program berdurasi sembilan jam ini, tidak mensyaratkan latar belakang teknis khusus dan dirancang agar relevan bagi audiens lintas sektor, mulai dari mahasiswa, peneliti akademis, pembuat kebijakan, hingga pelaku industri teknologi.</p>



<p>Setelah menyelesaikan program ini, peserta diharapkan memiliki kapasitas yang mumpuni untuk memastikan bahwa AI dapat dipelajari, dikembangkan, dan diadopsi dengan pendekatan yang lebih bertanggung jawab. Kursus ini dapat diakses secara gratis melalui platform&nbsp;<a href="https://www.coursera.org/learn/global-mooc-on-the-ethics-of-ai/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><u>Coursera</u></a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Fenomena AI Slop Mengemuka, Perlunya Etika AI</title>
		<link>https://nativzen.com/2025/11/27/fenomena-ai-slop-mengemuka-perlunya-etika-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2025 23:54:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[APPS]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[etika ai]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan buatan]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[politeknik tempo]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi ai]]></category>
		<category><![CDATA[telkomsel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=24561</guid>

					<description><![CDATA[Fenomena AI slop menyebabkan kualitas hilang karena kuantitasnya sangat banyak.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Bagi kita yang hidup di era digital di mana kecerdasan buatan alias AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari rekomendasi konten, chatbot, sampai alat editing otomatis.</p>



<p>Semua itu telah membentuk cara kita berkomunikasi, bekerja, dan bahkan berpikir. Namun di balik manfaatnya yang luar biasa, penggunaan AI juga membawa pertanyaan penting: bagaimana memastikan teknologi ini dapat digunakan secara bertanggung jawab?</p>



<p>Pertanyaan lainnya yang timbul adalah bagaimana kita, sebagai generasi muda dan calon profesional industri kreatif, dapat memahami sekaligus menerapkan etika ketika memanfaatkan AI di media sosial?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="701" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-1024x701.jpg" alt="" class="wp-image-24566" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-1024x701.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-300x205.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-768x526.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-370x253.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-270x185.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-570x390.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1-740x506.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_134325-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Hal itu mengemuka dalam seminar <strong>&#8220;Etika AI di Media Sosial&#8221;</strong> yang digelar oleh Ruang Tengah Digital Network (RTDN) bersama Politeknik Tempo di Jakarta, (26/11). Hadir tiga pembicara dari bidang akademisi, media, dan industri telekomunikasi.</p>



<p>Ketiganya memaparkan secara komprehensif risiko, etika, serta praktik aman penggunaan AI atau yang sering juga disebut kecerdasan buata di era konten digital saat ini. Sementara itu, peserta seminar yang hadir adalah mahasiswa Politeknik Tempo. </p>



<p>Dosen Desain Media Politeknik Tempo, Beny Maulana menjelaskan bahwa perkembangan AI generatif sejak 2022 menghadirkan perubahan besar pada produksi konten. Berawal dari teknologi gambar seperti stable diffusion, kualitas keluaran AI kini jauh lebih realistis.</p>



<p>Beny pun menjelaskan bahwa teks, gambar, dan video yang dibuat oleh AI kini begitu sulit dibedakan. Kemudahan dan kecepatan juga memicu munculnya fenomena AI slop atau konten “ampas” yang dibuat masif demi mengejar trafik dan pendapatan dari media sosial. </p>



<p>“Fenomena AI slop menyebabkan kualitas hilang karena kuantitasnya sangat banyak. Istilah brainrot, konten rendah kualitas yang menyasar anak-anak demi trafik tinggi, juga semakin meluas,&#8221; ujar Beny di seminar yang diselenggarakan di Gedung Tempo Institute Jakarta.</p>



<p>Di sisi lain, penyebaran konten palsu di media sosial, diperkuat interaksi dan komentar yang didorong bot, membuat hoaks semakin mudah viral. Hal ini pun banyak ditemukan di sejumlah platform media sosial yang sangat populer. </p>



<p>Selain itu, Beny juga menyoroti persoalan pelanggaran hak cipta akibat pengambilan data tanpa izin oleh perusahaan AI. Beberapa studio besar seperti Square Enix, Ghibli, Warner Bros, hingga Disney pernah menuntut perusahaan AI yang memakai karya mereka tanpa persetujuan.</p>



<p>&#8220;Teknologi AI ini advance, memudahkan, seperti Gemini, Copilot, ChatGPT dan sebagainya. Namun, di balik itu dengan kalian menggunakan, ternyata tidak seindah yang digambarkan, banyak problem dan masalah,&#8221; jelas Beny.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Hoaks, Deepfake, dan Etika Penggunaan AI</strong><strong></strong></h4>



<p>Tak kalah menarik, Editor Cek Fakta Kompas.com, Bayu Galih Wibisono mengatakan bahwa AI dapat menjadi alat bermanfaat maupun berbahaya, layaknya pisau. Kasus deepfake tokoh publik seperti Prabowo maupun manipulasi wajah untuk penipuan dan pornografi menjadi contoh nyata.</p>



<p>Selain itu, meningkatnya plagiarisme akademik dengan bantuan teknologi AI alias kecerdasan buatan ini juga menjadi perhatian. “AI boleh digunakan sebagai referensi, tetapi tidak bisa menjadi rujukan utama,” ucap Bayu.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="655" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-1024x655.jpg" alt="" class="wp-image-24567" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-1024x655.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-300x192.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-768x491.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-370x237.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-270x173.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-470x300.jpg 470w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-570x365.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1-740x473.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_141206-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Editor Cek Fakta Kompas.com, Bayu Galih Wibisono</figcaption></figure>



<p>Dalam paparannya, Bayu mengangkat 10 Poin Etika AI UNESCO, meliputi prinsip keamanan, transparansi, akuntabilitas, perlindungan data, keberlanjutan, hingga non-diskriminasi. Namun ia menegaskan bahwa di Indonesia belum ada UU khusus tentang AI.</p>



<p>Regulasi yang digunakan masih bergantung pada UU ITE dan KUHP. Untuk memeriksa hoaks atau konten yang diduga buatan AI, Bayu menyarankan penggunaan beberapa alat pengecekan seperti Hive Moderation dan tools lain, disertai verifikasi sumber asli agar analisis lebih akurat.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Panduan Etika AI dari Perspektif Industri</strong><strong></strong></h4>



<p>Dari sisi industri telekomunikasi, Gamma Aditya, Manager SIMPATI Telco Product Growth and Innovation Telkomsel menyampaikan bahwa AI telah hadir dalam berbagai layanan publik, mulai dari Google Maps, e-commerce, hingga layanan pelanggan Telkomsel seperti Veronika.</p>



<p>Gamma juga mengingatkan bahwa teknologi AI yang saat ini berkembang begitu pesat juga memiliki dampak negatif, seperti penipuan suara, manipulasi informasi, hingga risiko terhadap privasi pengguna.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="579" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-1024x579.jpg" alt="" class="wp-image-24568" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-1024x579.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-300x170.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-768x434.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-370x209.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-270x153.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-570x322.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1-740x419.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/11/20251126_145245-1.jpg 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Gamma Aditya, Manager SIMPATI Telco Product Growth and Innovation Telkomsel.</figcaption></figure>



<p>Oleh karena itu, masyarakat perlu memegang prinsip etika seperti selalu memverifikasi informasi, menggunakan AI untuk hal yang baik, menjaga dan tidak menyebarkan data pribadi hingga mengutamakan transparansi dan tanggung jawab.</p>



<p>“Teknologi AI ini ada dan perkembangannya sangat masif dan kita harus hidup damai bersama AI. Tapi yang perlu diingat oleh rekan-rekan mahasiswa semua, jangan sampai AI mengurangi jiwa kritis kita,” tegas Gamma.</p>



<p>Seminar <strong>&#8220;Etika AI di Media Sosial&#8221;</strong> yang digelar oleh Ruang Tengah Digital Network (RTDN) bersama Politeknik Tempo, serta media partner nativzen.com ini juga mendapat dukungan penuh dari Telkomsel.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
