<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>indonesia &#8211; NativZen</title>
	<atom:link href="https://nativzen.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nativzen.com</link>
	<description>Berita gadget dan teknologi terbaru</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Dec 2024 01:21:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/02/cropped-NZ_icon_no_BG-32x32.png</url>
	<title>indonesia &#8211; NativZen</title>
	<link>https://nativzen.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Google Search: Rasa Ingin Tahu Masyarakat Indonesia Sangat Tinggi</title>
		<link>https://nativzen.com/2024/12/18/google-search-rasa-ingin-tahu-masyarakat-indonesia-sangat-tinggi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2024 01:12:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[APPS]]></category>
		<category><![CDATA[google]]></category>
		<category><![CDATA[google search]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[trending]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=14871</guid>

					<description><![CDATA[Satu hal yang pasti: Orang Indonesia itu penuh rasa penasaran! Didorong oleh rasa haus akan pengetahuan, di tahun 2024.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Seiring berakhirnya tahun 2024, Google telah melihat kembali momen, orang, dan tren yang menarik perhatian Indonesia di Google Search. Ya, masyarakat Indonesia dinilai semakin aktif di dunia digital.</p>



<p>Minat mereka mengungkap perpaduan menarik antara pengaruh lokal dan global. Mulai dari olahraga dan pemilu, drama Korea dan hits dalam negeri, hingga aplikasi yang membawa nostalgia dan menjadi kebutuhan sehari-hari.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-1024x576.png" alt="" class="wp-image-14873" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-1024x576.png 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-300x169.png 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-768x432.png 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-370x208.png 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-270x152.png 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-570x321.png 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-740x416.png 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Year in Search 2024: Indonesia yang penuh rasa ingin tahu, cinta lokal, dan terlibat</h3>



<p>Satu hal yang pasti: orang Indonesia itu penuh rasa penasaran! Didorong oleh rasa haus akan pengetahuan, di tahun 2024 ini, orang Indonesia berbondong-bondong ke Google Search dengan segudang pertanyaan.</p>



<p>Selain itu, orang Indonesia juga dinilai begitu getol mencari jawaban atas segala hal, mulai dari kesehatan pribadi hingga tren viral dan peristiwa nasional. Rasa ingin tahu ini juga meluas ke isu-isu terkini dan sosial.</p>



<p>Ini terbukti dari pencarian seperti &#8220;Apa itu golput?&#8221;, “Apa kepanjangan IKN?” dan &#8220;Mengapa Indonesia lolos piala asia?&#8221;. Keinginan memahami dunia di sekitar mereka juga memicu pencarian &#8220;Apa&#8221; yang mengeksplorasi tren pop culture seperti “labubu”, &#8220;mewing&#8221; dan arti &#8220;red flag&#8221;.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="452" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-1024x452.png" alt="" class="wp-image-14874" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-1024x452.png 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-300x132.png 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-768x339.png 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-370x163.png 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-270x119.png 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-570x252.png 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2-740x327.png 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/12/Google-Search-2024-INA-2.png 1280w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Ini sekaligus menggambarkan sebagai bangsa yang aktif berpart isipasi dalam lanskap budaya yang terus berkembang, selalu ingin belajar, tumbuh, dan terlibat dengan dunia di sekitar mereka. Menariknya lagi, tahun ini dunia hiburan Indonesia juga diwarnai antusiasme terhadap karya lokal.</p>



<p>Pencarian untuk film, acara TV, dan musik menunjukkan pergeseran yang signifikan menuju konten lokal, yang semakin memperkuat preferensi terhadap cerita dan suara dalam negeri. Hal ini terlihat jelas dalam kategori &#8220;Lirik Lagu&#8221; dan &#8220;Film/Serial&#8221;.   </p>



<p>Di mana tujuh dari sepuluh pencarian teratas menampilkan lagu dan judul Indonesia. Kecintaan masyarakat Indonesia terhadap cerita lokal semakin nyata terlihat dari meningkatnya popularitas film-film yang menyentuh hati seperti &#8220;Agak Laen&#8221;, &#8220;Jatuh Cinta Seperti di Film&#8221;, dan &#8220;Paylater&#8221;.</p>



<p>Film-film ini terasa dekat di hati penonton Indonesia karena berhasil menampilkan humor dan pengalaman sehari-hari yang khas. Tren ini juga tampak dalam dunia musik. Mahalini terus meraih kesuksesan di tahun 2024 ini.</p>



<p>Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penggemar yang mencari lirik lagu &#8220;mati-matian&#8221; setelah &#8220;Sial&#8221; trending tahun lalu. Hal ini menunjukkan dukungan yang kuat terhadap musisi lokal. Tidak hanya Mahalini, Bernadya juga memiliki dua lagu yang trending tahun ini. </p>



<p>Ya, dua lagu yang dinyanyikan oleh Bernadya, &#8220;Satu Bulan&#8221; dan &#8220;Untungnya Bumi Masih Berputar&#8221; menunjukkan bagaimana musik lokal yang menyuarakan pengalaman dan perasaan mampu menciptakan koneksi yang kuat dengan para pendengarnya dan masyarakat Indonesia.</p>



<p>Pada akhirnya, Year in Search dari Google bukan sekadar daftar pencarian yang trending. Ini adalah cerminan dari rasa ingin tahu, minat, dan perhatian masyarakat Indonesia sepanjang tahun ini. </p>



<p>Hasil Year in Search tahun ini menjadi bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang aktif, peduli, dan bersemangat menjelajahi dunia melalui kekuatan pencarian. Selami lebih dalam tren pencarian Indonesia tahun 2024 di Year in Search untuk mengungkap lebih banyak wawasan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Daya Saing Digital Indonesia Naik ke Peringkat 43 Dunia</title>
		<link>https://nativzen.com/2024/11/14/daya-saing-digital-indonesia-naik-ke-peringkat-43-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Nov 2024 05:10:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[digital]]></category>
		<category><![CDATA[dunia digital]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=13711</guid>

					<description><![CDATA[Dalam lima tahun terakhir, daya saing digital Indonesia tercatat terus naik dari posisi 56 (2020) ke posisi 43 (2024).]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Peringkat daya saing digital Indonesia naik dua peringkat ke posisi 43 dunia dari total 67 negara yang diukur dalam riset the International Institute for Management Development <a href="https://www.imd.org/centers/wcc/world-competitiveness-center/rankings/world-digital-competitiveness-ranking/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">World Digital Competitiveness Ranking (IMD WDCR) 2024</a>. </p>



<p>Dalam lima tahun terakhir, daya saing digital Indonesia tercatat terus naik dari posisi 56 (2020), 53 (2021), 51 (2022), 45 (2023), dan 43 (2024). Namun dibanding sejumlah negara di Asia Tenggara, peringkat Indonesia cukup tertinggal. </p>



<p>Indonesia tercatat hanya unggul dari Filipina. Berikut daftar lima besar negara dengan daya saing digital terbaik di Asia Tenggara:</p>



<ol start="1">
<li>Singapura (peringkat 1, dengan skor 100)</li>



<li>Malaysia (peringkat 36, dengan skor 65,5)</li>



<li>Thailand (peringkat 37, dengan skor 65,45)</li>



<li>Indonesia (peringkat 43, dengan skor 61,36)</li>



<li>Filipina (peringkat 61, dengan skor 45,18)</li>
</ol>



<p>Jika dibandingkan dengan sejumlah negara Asia lain, peringkat daya saing digital Indonesia tercatat masih lebih baik dari India (51) dan Turki (55). Pasalnya, peringkat daya saing digital kedua negara ini terus turun dalam lima tahun terakhir.</p>



<p>Riset IMD WDCR 2024 dilakukan oleh&nbsp;<a href="https://www.imd.org/centers/wcc/world-competitiveness-center/rankings/world-digital-competitiveness-ranking/" rel="noreferrer noopener" target="_blank">IMD World Competitiveness Center (WCC)</a>&nbsp;berdasarkan data keras dan survei. Untuk mengukur kelebihan dan kekurangan daya saing digital suatu negara, WCC menggunakan 52 kriteria yang digunakan untuk menentukan peringkat.</p>



<p>Faktor-faktor itu lantas dikelompokkan menjadi tiga pilar utama, yaitu pengetahuan, teknologi, dan kesiapan masa depan. Ketiga faktor ini diyakini menjadi penentu tingkat inovasi, inklusi dan transformasi digital suatu negara. </p>



<p>“Untuk meningkatkan daya saing digital, negara harus menyeimbangkan ketiga faktor tersebut,” jelas Kepala Ekonom WCC, Christos Cabolis.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Persoalan Indonesia: Internet Lambat</h3>



<p>Dari 52 kriteria penilaian untuk memeringkatkan daya saing suatu negara, kecepatan internet pita lebar Indonesia tergolong sangat lambat. Mengejutkan, Indonesia hanya menempati peringkat 66 dari 67 negara. </p>



<p>Indonesia tercatat masih perlu perbaikan untuk meningkatkan jumlah pengguna internet yang ada di peringkat 64, pembajakan software (peringkat 63), pendidikan dan pelatihan teknologi (peringkat 63), dan jumlah artikel riset AI yang terbit di jurnal scopus (63).</p>



<p>Meski demikian, keberhasilan daya saing digital Indonesia naik dua peringkat tahun ini. Hal ini didongkrak oleh tingginya angka investasi teknologi. Indonesia mencatat prestasi gemilang untuk teknologi dari layanan perbankan dan finansial (peringkat 2)</p>



<p>Indonesia juga tercatat tinggi dalam hal investasi telekomunikasi (peringkat 3), dan pemodal ventura (venture capital) untuk perusahaan teknologi (peringkat 5). Untuk kesiapan masa depan (future readiness), Indonesia dinilai punya business agility yang sukses menempati peringkat 10. </p>



<p>Masifnya pemanfaatan analisa big data (peringkat 2) turut mengerek naik peringkat Indonesia di antara negara lain di dunia.  Lebih lanjut Jose Caballero, Ekonom Senior WCC juga menyampaikan soal isu kesenjangan digital yang memang menjadi isu krusial di banyak negara berkembang. </p>



<p>“Indonesia termasuk didalamnya. Hal ini terlihat dari rendahnya jumlah pengguna internet broadband yang kemungkinan besar disebabkan oleh tidak atau belum meratanya layanan internet di beberapa daerah,” tuturnya.</p>



<p>Selain akibat tidak meratanya akses internet berkecepatan tinggi, kesenjangan digital yang jadi masalah krusial di 2025, juga terjadi akibat ketersediaan listrik yang tidak dapat diandalkan, dan kurangnya ketersediaan jaringan telekomunikasi modern. </p>



<p>Ketiadaan akses ini membuat terbatasnya partisipasi warga, terutama di wilayah pedesaan dan daerah terpencil untuk ikut memanfaatkan ekonomi digital. Ya, tampaknya memang banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibereskan oleh pemerintah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
