<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>linkedin &#8211; NativZen</title>
	<atom:link href="https://nativzen.com/tag/linkedin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nativzen.com</link>
	<description>Berita gadget dan teknologi terbaru</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 May 2025 00:55:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/02/cropped-NZ_icon_no_BG-32x32.png</url>
	<title>linkedin &#8211; NativZen</title>
	<link>https://nativzen.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Manjakan Pencari Kerja, LinkedIn Hadir dengan Fitur AI Terbaru</title>
		<link>https://nativzen.com/2025/05/09/manjakan-pencari-kerja-linkedin-hadir-dengan-fitur-ai-terbaru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 May 2025 00:55:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[fitur ai]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[pencari kerja]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=18819</guid>

					<description><![CDATA[Fitur Job Match di LinkedIn memungkinkan pencari kerja langsung menilai sejauh mana kualifikasi mereka cocok dengan lowongan tertentu.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; LinkedIn telah meluncurkan Grad Guide 2025 bersama rangkaian fitur berbasis AI yang dirancang untuk membekali para lulusan baru dan profesional awal karier dengan kepercayaan diri dan pengetahuan yang dibutuhkan.</p>



<p>Edisi tahun ini mencakup 10 jabatan dan industri dengan pertumbuhan tercepat untuk lulusan sarjana di Indonesia, berdasarkan data agregat dari jutaan profil anggota dan lowongan pekerjaan di LinkedIn.</p>



<p>Artificial Intelligence Engineer, Security Operations Center Analyst, dan Environmental Health Safety Specialist menjadi tiga posisi dengan popularitas yang tumbuh pesat di kalangan lulusan sarjana di Indonesia. </p>



<p>Tren ini menunjukkan kebutuhan yang tinggi di industri akan keterampilan AI dan green skills. Faktanya, LinkedIn menemukan bahwa pencari kerja dengan green skills memiliki kemungkinan direkrut 54,6% lebih tinggi dibanding rata-rata tenaga kerja.</p>



<p>Berikut adalah 10 posisi pekerjaan dan industri dengan pertumbuhan tercepat bagi lulusan sarjana di Indonesia:</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="683" height="539" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-177.png" alt="" class="wp-image-18820" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-177.png 683w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-177-300x237.png 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-177-370x292.png 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-177-270x213.png 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/05/Screenshot-177-570x450.png 570w" sizes="(max-width: 683px) 100vw, 683px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>LinkedIn Manfaatkan AI</strong></h3>



<p>LinkedIn menemukan bahwa pencarian kerja semakin menantang, terutama bagi talenta muda. Data LinkedIn menunjukkan, jumlah lowongan kerja yang tersedia per pelamar di Indonesia turun 11% dalam setahun terakhir (Maret 2024–Maret 2025).</p>



<p>Untuk mengatasi tantangan ini, LinkedIn memperkenalkan solusi baru berbasis AI yang bertujuan mengubah cara lulusan baru dan para profesional di masa awal karier menjalani proses pencarian kerja. </p>



<p>Inovasi yang dikembangkan oleh LinkedIn ini diharapkan akan menawarkan pengembangan keterampilan dan rekomendasi karier yang dipersonalisasi sesuai dengan preferensi dan aspirasi unik setiap pengguna.</p>



<p>“Mendapatkan pekerjaan di level awal selalu menjadi tantangan, apalagi di pasar tenaga kerja saat ini,” Di LinkedIn, kami berkomitmen untuk mendukung lulusan baru dan profesional muda di Indonesia,&#8221; ujar<em> </em><a href="https://www.linkedin.com/in/serlarusli/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Serla Rusli, LinkedIn Career Expert</a><em>. </em> </p>



<p>Ditambahkan oleh Serla bahwa dukungan tersebut diharapkan dapat membuat proses memasuki dunia kerja menjadi lebih mudah diakses dan tidak terlalu menakutkan. Hal ini juga penting bagi para profesional muda untuk dapat melihat peluang. </p>



<p>&#8220;Melalui alat berbasis AI, kami ingin membantu seluruh pengguna untuk mengarungi lanskap tenaga kerja saat ini menuju peran yang sesuai dengan keterampilan dan aspirasi mereka,&#8221; tambah Serla.</p>



<p>Awal tahun ini, LinkedIn meluncurkan fitur Job Match yang memungkinkan pencari kerja langsung menilai sejauh mana kualifikasi mereka cocok dengan lowongan tertentu. Pengguna dapat melihat kualifikasi mana yang sudah dimiliki dan mana yang belum.</p>



<p>Dengan bantuan fitur tersebut pengguna dapat mengambil keputusan melamar secara lebih tepat, cepat, dan cerdas. Tak hanya itu, LinkedIn juga meningkatkan transparansi melalui Hiring Insights. </p>



<p>Fitur ini mengungkapkan data penting seperti kemungkinan pengguna mendapat tanggapan, apakah lowongan tersebut telah diverifikasi, apakah perekrut aktif meninjau aplikasi, atau apakah posisi sedang dipromosikan yang menjadi indikator urgensi dari pihak pemberi kerja.</p>



<p>Selain itu, fitur <a href="https://learning.linkedin.com/resources/learner-engagement/linkedin-learning-ai-powered-coaching" target="_blank" rel="noreferrer noopener">AI-powered Coaching</a>memberikan panduan komunikasi di tempat kerja—mulai dari menyampaikan ulasan kinerja, memberikan umpan balik, hingga membahas keseimbangan kehidupan profesional dan personal. </p>



<p>Fitur ini tersedia di LinkedIn Learning dan dapat diakses oleh semua pengguna, dengan opsi yang lebih personal tersedia secara eksklusif untuk pelanggan LinkedIn Premium. LinkedIn Learning juga menyediakan My Career Journey.</p>



<p>Ini merupakan rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan karier individu. Bagi pengguna yang ingin naik jabatan ataupun menjelajahi bidang baru, My Career Journey memberikan peta jalan yang terstruktur untuk membantu mereka melangkah maju.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Inilah Daftar LinkedIn Top Companies Indonesia 2025</title>
		<link>https://nativzen.com/2025/04/10/inilah-daftar-linkedin-top-companies-indonesia-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Apr 2025 00:11:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[top companies indonesia 2025]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=17997</guid>

					<description><![CDATA[Tiga dari lima besar berasal dari sektor perbankan, menunjukkan peran penting industri ini dalam pengembangan karier profesional.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; LinkedIn telah merilis daftar <a href="https://www.linkedin.com/pulse/top-companies-linkedin-2025-15-tempat-kerja-terbaik-w1yof" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Top Companies Indonesia 2025</a>—peringkat 15 perusahaan terbaik untuk pengembangan karier profesional saat ini, berdasarkan data dan aktivitas jutaan anggota LinkedIn di Indonesia. </p>



<p>Daftar ini memberikan gambaran mendalam mengenai keterampilan yang paling dibutuhkan, lokasi kerja unggulan, serta fungsi pekerjaan terbesar di dalam perusahaan-perusahaan tersebut. Bagi pencari kerja, daftar ini menjadi panduan berharga untuk menemukan peluang berikutnya.</p>



<p>Peringkat ini disusun berdasarkan delapan pilar yang mencerminkan aspek penting dalam pengembangan karier—seperti potensi jenjang karier, pertumbuhan keterampilan, peluang eksternal, hingga keterikatan terhadap perusahaan. </p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-819x1024.png" alt="" class="wp-image-17998" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-819x1024.png 819w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-240x300.png 240w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-768x960.png 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-370x463.png 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-270x338.png 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-570x713.png 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025-740x925.png 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/04/LinkedIn-Top-Companies-Indonesia-2025.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>Hasilnya, daftar ini menyoroti perusahaan-perusahaan yang secara aktif berinvestasi dalam pengembangan karyawan dan sedang membuka peluang di tengah pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.</p>



<p>Menariknya, sektor keuangan kembali mendominasi tahun ini. <a href="http://linkedin.com/company/bankmandiri" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Bank Mandiri (Persero) Tbk</a> menempati peringkat pertama, disusul oleh <a href="http://linkedin.com/company/pt--bank-tabungan-negara-persero-tbk" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)</a> di peringkat ke-3, dan <a href="http://linkedin.com/company/pt-bank-rakyat-indonesia-persero-tbk" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk</a> di peringkat ke-4. </p>



<p>Dominasi ini mencerminkan keseriusan sektor finansial dalam menarik dan membina talenta terbaik di Indonesia. Kebutuhan akan pengembangan keterampilan juga menjadi semakin penting bagi pencari kerja. </p>



<p>Faktanya, kesempatan untuk belajar keterampilan baru yang relevan adalah faktor nomor satu yang dinilai akan membantu kemajuan karier. 46% profesional di Indonesia juga menyebut peluang belajar dan berkembang sebagai pertimbangan utama dalam melamar suatu pekerjaan.</p>



<p>Melalui program mentoring, jaringan internal, hingga akses ke pelatihan dan pengembangan profesional, perusahaan-perusahaan di daftar Top Companies ini memberikan ruang yang nyata bagi karyawannya untuk bertumbuh dan membangun karier yang bermakna.</p>



<p>“Di BTN, kami mencari individu yang lincah, adaptif, dan memiliki orientasi kuat pada pelanggan—karakter yang penting di tengah lanskap finansial yang terus berubah,&#8221; ujar Eko Waluyo, Direktur HC, Kepatuhan &amp; Hukum, Bank Tabungan Negara.</p>



<p>Oleh karena itu, Eko Waluyo menambahkan bahwa transformasi digital yang didorong AI menuntut BTN untuk merekrut talenta yang siap berubah, berinovasi, dan terus belajar. Tidak hanya mencari kemampuan teknis, tetapi juga potensi jangka panjang. </p>



<p>Di tengah ketidakpastian pasar kerja dan perebutan talenta yang kian ketat, pencari kerja perlu lebih kompetitif. Kemampuan seperti adaptasi, berpikir inovatif, dan literasi AI kini menjadi&nbsp;<a href="https://www.linkedin.com/business/talent/blog/learning-and-development/skills-on-the-rise" target="_blank" rel="noreferrer noopener">keterampilan yang paling dibutuhkan</a>&nbsp;berdasarkan riset LinkedIn untuk 2025.</p>



<p>“Di Nestlé Indonesia, kami menjadikan adaptabilitas, kolaborasi, dan inovasi sebagai tiga kemampuan utama yang kami cari,&#8221; ucap Fahrul Irvanto, Direktur Human Resources Nestlé Indonesia.</p>



<p>Ditambahkan oleh Fahrul bahwa di dunia kerja yang bergerak cepat, kemampuan untuk menyesuaikan diri sangat krusial. Kolaborasi dalam tim yang beragam juga menjadi fondasi kesuksesan Nestlé Indonesia.</p>



<p>Selain sektor finansial, daftar tahun ini juga menyoroti peluang besar di sektor IT, perangkat lunak, dan teknologi—dengan perusahaan seperti <a href="http://linkedin.com/company/telekomunikasi-indonesia" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Telkom Indonesia</a> (#2), <a href="http://linkedin.com/company/alphabet-inc" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Alphabet</a> (#5), <a href="http://linkedin.com/company/grabapp" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Grab</a> (#11), dan <a href="http://linkedin.com/company/ibm" target="_blank" rel="noreferrer noopener">IBM</a> (#14). </p>



<p>Sektor manufaktur juga tampil kuat, terutama pada subsektor semikonduktor dan kimia, dengan kehadiran <a href="http://linkedin.com/company/ibm" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Proctor &amp; Gamble</a> (#6), <a href="http://linkedin.com/company/infineon-technologies" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Infineon Technologies </a>(#9), dan pendatang baru <a href="http://linkedin.com/company/bayer" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bayer</a> (#15). Investasi global dan penerapan AI yang masif turut mendorong perkembangan sektor ini.</p>



<p>“Pelajaran terbesar dari daftar tahun ini adalah bahwa perusahaan tidak hanya merekrut untuk kebutuhan saat ini, tapi juga untuk posisi masa depan,&#8221; kata Serla Rusli, Career Expert di LinkedIn melalui rilis yang diterima oleh nativzen.com.</p>



<p>Lebih lanjut, Serla menambahkan bahwa tak sedikit perusahaan mencari profesional yang tidak hanya andal secara teknis, tapi juga mampu berpikir kritis, beradaptasi cepat, dan tumbuh bersama bisnis. </p>



<p>&#8220;Bagi yang sedang mencari pekerjaan pertama atau berikutny, ini saatnya memperluas jangkauan. Perkuat keahlian inti, gali keterampilan yang bisa ditransfer, dan terus ikuti perkembangan industri,&#8221; tambah Serla.</p>



<p><strong>Tips Memaksimalkan Peluang di Top Companies:</strong></p>



<ul>
<li><strong>Perkuat Profil LinkedIn Anda:</strong> Profil adalah &#8220;jabat tangan virtual&#8221; pertama Anda. Gunakan fitur AI Premium untuk membantu menyusun bagian Headline dan About agar lebih menonjol di mata rekruter.</li>



<li><strong>Gunakan fitur ‘I’m Interested’: </strong>Ekspresikan ketertarikan bekerja di perusahaan secara privat, meskipun belum ada lowongan terbuka.</li>



<li><strong>Pelajari <em>culture</em> perusahaan:</strong> Ikuti halaman dan pimpinan perusahaan di LinkedIn untuk memahami nilai dan visi mereka, yang akan berguna saat proses wawancara.</li>



<li><strong>Berkoneksi dengan karyawan:</strong> Terhubung dengan karyawan (saat ini atau sebelumnya) dari perusahaan yang Anda minati. Referensi dari jaringan 4x lebih berpeluang membawa Anda ke posisi yang diinginkan.</li>



<li><strong>Tingkatkan dan tunjukan keterampilan Anda:</strong> Tampilkan skill seperti problem-solving, komunikasi, atau AI di resume dan saat wawancara. Gunakan LinkedIn Learning untuk terus mengembangkan diri.</li>
</ul>



<p>Inilah 15 Perusahaan Terbaik Versi LinkedIn Top Companies Indonesia 2025:</p>



<ol start="1">
<li><a href="http://linkedin.com/company/bankmandiri" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Bank Mandiri (Persero) Tbk</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/telekomunikasi-indonesia" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Telkom Indonesia</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/pt--bank-tabungan-negara-persero-tbk" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/pt-bank-rakyat-indonesia-persero-tbk" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/alphabet-inc" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Alphabet</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/ibm" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Proctor &amp; Gamble</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/taspen" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT Taspen</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/nestle-s-a-" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Nestlé</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/infineon-technologies" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Infineon Technologies</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/pt-pln-persero-" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PT PLN (Persero) </a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/grabapp" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Grab</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/totalenergies" target="_blank" rel="noreferrer noopener">TotalEnergies</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/bp" target="_blank" rel="noreferrer noopener">bp</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/ibm" target="_blank" rel="noreferrer noopener">IBM</a></li>



<li><a href="http://linkedin.com/company/bayer" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Bayer</a> </li>
</ol>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>LinkedIn Perkenalkan Fitur AI Baru untuk Bantu Perekrutan</title>
		<link>https://nativzen.com/2025/03/05/linkedin-perkenalkan-fitur-ai-baru-untuk-bantu-perekrutan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Mar 2025 03:23:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[aplikasi linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[fitur ai]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[tenaga kerja]]></category>
		<category><![CDATA[terampil ai]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=16965</guid>

					<description><![CDATA[Inovasi ini mencakup AI agent pertama LinkedIn, LinkedIn Hiring Assistant, serta fitur baru dalam AI-Powered Coaching di LinkedIn Learning. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; LinkedIn berkomitmen mendukung tenaga kerja Indonesia di era transformasi digital yang pesat melalui solusi terbaru berbasis AI. Inovasi ini mencakup AI agent pertama LinkedIn, LinkedIn Hiring Assistant, serta fitur baru dalam AI-Powered Coaching di LinkedIn Learning. </p>



<p>Teknologi ini akan menyederhanakan proses perekrutan bagi bisnis di Indonesia serta membantu para profesional mengembangkan keterampilan yang sedang banyak dibutuhkan, sehingga mereka bisa meningkatkan karier sekaligus menjembatani kesenjangan keterampilan yang dihadapi para perekrut di Indonesia.</p>



<p>LinkedIn Hiring Assistant dirancang untuk menangani tugas-tugas perekrutan yang repetitif dan memakan waktu—seperti memposting lowongan kerja dan melakukan pencarian berulang untuk posisi yang sama. </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="960" height="638" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0.jpg" alt="" class="wp-image-16966" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0.jpg 960w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0-300x199.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0-768x510.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0-370x246.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0-270x179.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0-570x379.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/03/960x0-740x492.jpg 740w" sizes="(max-width: 960px) 100vw, 960px" /></figure>



<p>Dengan begitu, perekrut dapat lebih fokus pada hal-hal strategis, seperti membangun hubungan dengan kandidat, melakukan wawancara mendalam, serta menilai soft skills dan kecocokan budaya kerja. </p>



<p>Berdasarkan data LinkedIn, 74% profesional HR di Indonesia percaya bahwa alat berbasis AI dapat mempercepat dan menyederhanakan proses perekrutan. Hiring Assistant membantu perekrut menemukan kandidat berdasarkan keterampilan mereka.</p>



<p>Hal ini membuka akses ke lebih banyak talenta potensial. AI agent ini juga terus mempelajari preferensi perekrut untuk memberikan rekomendasi yang semakin personal, sehingga mempermudah pencarian kandidat yang tepat dengan lebih cepat.</p>



<p>Selain itu, LinkedIn juga memperluas AI-Powered Coaching dengan fitur baru dalam bahasa Inggris yang dirancang untuk membantu para profesional berlatih keterampilan interpersonal yang penting di dunia kerja. </p>



<p>Fitur ini memungkinkan pengguna untuk berlatih menghadapi berbagai skenario—seperti memberikan review kinerja, membahas keseimbangan kerja dan kehidupan, serta memberikan umpan balik—melalui interaksi berbasis teks atau suara. </p>



<p>Dengan adanya umpan balik personal dalam lingkungan virtual yang aman, pengguna bisa lebih percaya diri dalam menghadapi percakapan penting di tempat kerja. Perusahaan global seperti Thomson Reuters, Gates Foundation, dan lembaga pemikir asal Inggris IIED telah menggunakan fitur ini. </p>



<p>Di tengah pesatnya perkembangan AI, tantangan dalam meningkatkan keterampilan semakin besar, sehingga investasi dalam Learning &amp; Development (L&amp;D) serta mobilitas internal menjadi sangat penting. </p>



<p>Hal ini sangat relevan di Indonesia, di mana 56% profesional HR mengalami kesulitan dalam mendapatkan sumber belajar yang disesuaikan, yang dapat menghambat mereka dalam menemukan dan mengembangkan talenta terbaik dari dalam organisasi.</p>



<p>Dengan menyediakan kesempatan belajar yang lebih terarah, AI-Powered Coaching di LinkedIn Learning membantu para profesional mengasah keterampilan yang paling dibutuhkan—terutama keterampilan interpersonal—untuk mempercepat kemajuan karier mereka.</p>



<p>&#8220;Kesenjangan keterampilan di Indonesia perlu diatasi dengan dua pendekatan. Perusahaan harus fokus merekrut berdasarkan keterampilan, sementara profesional perlu terus belajar,&#8221; ujar Rohit Kalsy, Indonesia Country Lead di LinkedIn. </p>



<p>Ditambahkan oleh Rohit Kalsy bahwa seiring AI yang semakin membentuk dunia kerja, LinkedIn berkomitmen untuk terus mengembangkan solusi berbasis AI agar bisnis dan profesional bisa terhubung lebih cepat, mempercepat perekrutan, dan membuka peluang baru.</p>



<p>Setuju dengan pernyataan Rohit Kalsy, Alifah Zahra, Head of Talent Acquisition di Paragon Corp, menambahkan bahwa AI membuat kerja HR lebih efisien dengan memungkinkan fokus pada strategi dan keputusan berbasis data.</p>



<p>&#8220;Dengan LinkedIn Hiring Assistant, kami tentunya berharap proses rekrutmen tenaga kerja menjadi lebih lancar dan efektif, sehingga Talent Acquisition bisa lebih berperan sebagai mitra strategis bisnis,&#8221; ujar Alifah Zahra.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Pendekatan Berbasis Keterampilan</h3>



<p>Ekspansi solusi AI dari LinkedIn di Indonesia hadir di momen yang tepat, karena 94% eksekutif di Asia-Pasifik (APAC) menetapkan adopsi AI sebagai prioritas strategis untuk 2025. Dengan wawasan dari lebih dari 1,1 miliar anggota dan hampir 69 juta perusahaan.</p>



<p>Laporan LinkedIn Work Change Report menunjukkan bahwa organisasi yang cepat beradaptasi akan memiliki keunggulan kompetitif. Buktinya, dalam dua tahun terakhir, 51% bisnis global yang telah menerapkan Generative AI mengalami peningkatan pendapatan hingga 10% atau lebih.</p>



<p>Meskipun AI mendorong pertumbuhan bisnis di seluruh dunia, tenaga kerja di Indonesia masih kekurangan keterampilan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan peluang ini. Jika investasi dalam pengembangan keterampilan AI tidak segera dilakukan, ini akan beresiko tinggi bagi Indonesia.</p>



<p>Data LinkedIn mengungkapkan kesenjangan keterampilan yang signifikan di Indonesia:</p>



<ul>
<li>1 dari 2 profesional HR mengatakan bahwa kurang dari setengah pelamar memenuhi semua kualifikasi yang dibutuhkan.</li>



<li>63% profesional HR melaporkan adanya ketidaksesuaian antara keterampilan pelamar dan kebutuhan perusahaan.</li>



<li>Keterampilan yang paling sulit ditemukan di antara kandidat Indonesia meliputi:<br>○ Keahlian AI (45%)<br>○ Keterampilan teknis &amp; IT seperti pengembangan perangkat lunak dan rekayasa (40%)<br>○ Soft skills seperti komunikasi dan pemecahan masalah (32%)</li>
</ul>



<p>Sebagai solusinya, LinkedIn mendorong model perekrutan berbasis keterampilan (skills-first hiring), di mana kompetensi menjadi prioritas utama dibandingkan latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja.  </p>



<p>Pendekatan ini terbukti efektif, meningkatkan jumlah kandidat yang memenuhi syarat hingga 9,5 kali lipat dibandingkan perekrutan berbasis pengalaman. Secara global, setengah dari perekrut di LinkedIn sudah menggunakan data keterampilan untuk mencari kandidat.</p>



<p>Kebutuhan untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan semakin mendesak. Data LinkedIn menunjukkan bahwa 85% profesional HR di Indonesia menetapkan upskilling karyawan sebagai prioritas utama untuk 2025</p>



<p>Keterampilan AI (85%) dan soft skills seperti kolaborasi serta growth mindset (84%) menjadi<br>yang paling dibutuhkan. Perusahaan yang menerapkan perekrutan berbasis keterampilan lebih efektif dalam mencocokkan talenta dengan peran yang tepat.</p>



<p>Ini menghasilkan kinerja dan hasil bisnis yang lebih baik. Pendekatan ini juga membuka peluang yang lebih luas dan inklusif. Bahkan, 92% pemimpin C-suite di APAC lebih memilih kandidat dengan potensi berkembang dan kemauan belajar.</p>



<p>Seiring AI yang terus mengubah pasar kerja, dampaknya terhadap perekrutan dan pengembangan karier tidak bisa diabaikan. LinkedIn berkomitmen untuk mendukung bisnis dan profesional dalam menemukan serta mendapatkan pekerjaan yang sesuai. </p>



<p>Dengan memanfaatkan tools berbasis AI, LinkedIn membantu perusahaan menerapkan perekrutan berbasis keterampilan sekaligus memberikan kesempatan bagi para profesional untuk meningkatkan keterampilan mereka dan beradaptasi dengan perubahan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>LinkedIn: 7 dari 10 Profesional di Indonesia Ingin Pindah Kerja di 2025</title>
		<link>https://nativzen.com/2025/01/18/linkedin-7-dari-10-profesional-di-indonesia-ingin-pindah-kerja-di-2025/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Jan 2025 11:25:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[pelamar kerja]]></category>
		<category><![CDATA[perekrut]]></category>
		<category><![CDATA[profesional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=15526</guid>

					<description><![CDATA[Data LinkedIn mengungkapkan bahwa hampir 6 dari 10 (59%) pencari kerja mengaku pernah di-ghosting oleh perekrut.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Tahun baru membawa harapan baru bagi banyak profesional di Indonesia. Sebanyak 7 dari 10 (70%) profesional menyatakan akan mencari pekerjaan baru pada tahun 2025, lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya sebesar 58%. </p>



<p>Namun, proses pencarian pekerjaan kini semakin menantang. Data <a href="https://www.linkedin.com/feed/">LinkedIn</a> mengungkapkan bahwa hampir 6 dari 10 (59%) pencari kerja mengaku pernah di-ghosting oleh perekrut dan tidak mendapat respons apapun setelah mengirimkan lamaran atau menghubungi tim perekrut.</p>



<p>Hasilnya, lebih dari setengah responden mengatakan bahwa proses pencarian kerja menjadi lebih sulit (58%) dan memakan waktu lebih lama (59%) dalam setahun terakhir. Tren ini menunjukkan bahwa para profesional Indonesia perlu mengubah strategi mereka dalam mencari pekerjaan.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-1024x683.jpg" alt="" class="wp-image-15527" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-1024x683.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-300x200.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-768x512.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-370x247.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-270x180.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-570x380.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154-740x493.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/01/2154.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Profesional di Indonesia Perlu Beradaptasi</strong></h3>



<p>Bagi banyak orang, mencari pekerjaan kini seperti permainan peluang. Rata-rata, profesional di Indonesia menghabiskan waktu hingga empat jam per minggu untuk mengirim sebanyak lima lamaran pekerjaan. </p>



<p>Sementara, 42% profesional percaya bahwa semakin banyak lamaran yang dikirimkan, semakin besar peluang mereka mendapat pekerjaan. Anggapan ini paling banyak berasal dari  Gen Z (45%) dan Milenial (43%).</p>



<p>Namun, kenyataannya strategi ini justru menjadi bumerang. Sekitar 4 dari 10 (43%) profesional di Indonesia mengaku telah mengirim lebih banyak lamaran dari biasanya, tetapi tidak mendapatkan balasan.</p>



<p>Di sisi lain, para perekrut kelelahan dengan banyaknya lamaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan persyaratan. Sebanyak 8 dari 10 (80%) perekrut mengatakan bahwa mereka menerima lebih banyak lamaran dibandingkan tahun lalu. </p>



<p>Ini mengakibatkan 29% dari mereka menghabiskan waktu hingga 3-5 jam dalam sehari untuk menyeleksi lamaran. Namun, mereka melaporkan bahwa, dari lamaran yang diterima, tidak ada satupun (0%) yang benar-benar memenuhi kualifikasi.</p>



<p>“Di tengah persaingan job market yang kompetitif, para pencari kerja seringkali ingin melamar sebanyak mungkin untuk setiap posisi yang ada, dengan harapan peluang mendapatkan pekerjaan semakin besar,&#8221; ujar Serla Rusli, LinkedIn Career Expert.</p>



<p>Ditambahkan oleh Rusli bahwa mengirimkan lamaran terlalu banyak justru tidak akan berhasil, dan bisa membuat mereka kecewa saat menerima respon yang minim atau bahkan “di-ghosting” oleh para perekrut. </p>



<p>&#8220;Dengan semakin banyaknya orang yang mencari pekerjaan tahun ini, para profesional di Indonesia harus bisa beradaptasi, mengambil pendekatan baru dan lebih strategis dalam melamar pekerjaan yang sesuai dengan skills,&#8221; tambah Rusli.</p>



<p>Riset terbaru LinkedIn menunjukkan, 56% pencari kerja berharap mereka memiliki cara yang lebih efisien untuk memastikan skills yang dibutuhkan. Untuk memudahkan para pencari kerja di Indonesia dalam menyesuaikan strategi, LinkedIn telah meluncurkan fitur Job Match terbaru.</p>



<p>Fitur ini menampilkan bagaimana skills dan pengalaman mereka cocok untuk posisi yang tersedia. Dengan begitu, para pencari kerja bisa fokus mencari pekerjaan dengan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan tanggapan. </p>



<p>Cukup dengan sekali klik, para pencari kerja bisa mendapatkan info lengkap dari kualifikasi apa saja yang mereka miliki dan tidak miliki, sehingga mereka bisa memutuskan apakah perlu melamar pekerjaan tersebut atau tidak. </p>



<p>Selain itu, pelanggan premium juga akan mendapatkan panduan tambahan dengan alat bantu bertenaga AI dari LinkedIn untuk memperbaiki CV, surat lamaran, dan melihat pekerjaan yang lebih cocok untuk mereka. </p>



<p>Di Indonesia, hampir 7 dari 10 (69%) pencari kerja terbuka terhadap peran-peran di industri atau bidang baru. Laporan Jobs on the Rise terbaru dari LinkedIn menawarkan insights menarik tentang pekerjaan yang paling cepat berkembang di Indonesia selama tiga tahun terakhir. </p>



<p>Peringkat tahun ini mengungkap adanya peningkatan posisi untuk pekerjaan yang berfokus pada teknik keamanan, perjalanan, dan pekerjaan di sektor pelayanan karena, seperti banyak negara lain di dunia,  sektor bisnis di Indonesia sudah kembali normal pasca pandemi.</p>



<p>Adapun tiga pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia adalah: </p>



<ol>
<li>Konsultan Perjalanan,</li>



<li>Ahli Keamanan Siber, </li>



<li>Analis Pusat Operasi Keamanan.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>LinkedIn: Kembangkan Skills Menggunakan ‘Loud Learning’</title>
		<link>https://nativzen.com/2024/06/19/linkedin-kembangkan-skills-menggunakan-loud-learning/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Jun 2024 23:23:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[loud learning]]></category>
		<category><![CDATA[profesional]]></category>
		<category><![CDATA[skills]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=8762</guid>

					<description><![CDATA[‘Loud Learning’ merupakan sebuah tren baru bagi para profesional di Indonesia untuk mengembangkan skills di lingkungan kerja.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Di era AI ini, para profesional harus mengembangkan skills baru untuk memajukan karier. Namun, penelitian terbaru dari <a href="http://www.linkedin.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">LinkedIn</a>, jaringan profesional terbesar di dunia, menunjukkan bahwa mereka menghadapi hambatan dalam proses belajar. </p>



<p>Meskipun 79% profesional di Indonesia mengatakan bahwa perusahaan mereka sudah cukup baik dalam menciptakan budaya belajar, temuan menunjukkan bahwa 92% mengalami kesulitan untuk memprioritaskan pembelajaran karena komitmen kerja dan keluarga.</p>



<p>Hambatan utama yang dihadapi termasuk kurangnya waktu akibat jadwal kerja yang padat (33%), tanggung jawab keluarga atau komitmen pribadi lainnya (31%), dan kurangnya motivasi atau disiplin untuk menyisihkan waktu (27%).</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-8766" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-1024x1024.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-300x300.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-150x150.jpg 150w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-768x768.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-1536x1536.jpg 1536w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-370x370.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-270x270.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-570x570.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-740x740.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6-120x120.jpg 120w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image001-6.jpg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h3 class="wp-block-heading">Perlu Melakukan &#8216;Loud Learning&#8217;</h3>



<p>‘Loud Learning’, yang menyuarakan ambisi belajar di tempat kerja, telah muncul sebagai solusi yang menjanjikan. Sekitar 83% profesional di Indonesia mengatakan bahwa praktik ini dapat membantu mereka meluangkan waktu untuk meningkatkan skills.</p>



<p>Terdapat tiga cara utama yang digunakan oleh para profesional di Indonesia dalam &#8216;Loud Learning:</p>



<ol>
<li>Berbagi pembelajaran dengan rekan tim (47%)</li>



<li>Membagikan perjalanan pembelajaran atau pencapaian mereka di LinkedIn (40%)</li>



<li>memberitahu anggota tim tentang waktu belajar mereka (39%)</li>
</ol>



<p>Tercatat, 72% dari para profesional di Indonesia sudah terlibat dalam &#8216;Loud Learning&#8217;. Sekitar 81% dari para profesional di Indonesia mengatakan bahwa mereka termotivasi untuk terlibat dalam ‘Loud Learning’ setelah melihat rekan mereka menggunakannya.</p>



<p>Untuk melengkapi pengalaman belajar mereka, 63% dari para profesional di Indonesia juga mengatakan bahwa mereka memiliki <em>Learning BFF</em>–seorang teman yang mendukung dan belajar bersama mereka. Jadi, seluruh pengalaman belajar lebih menyenangkan dan efektif.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Menggunakan ‘Loud Learning’ untuk Mengembangkan Karier</h3>



<p>Penelitian LinkedIn menunjukkan, 85% profesional di Indonesia percaya bahwa terlibat dalam &#8216;Loud Learning&#8217; dapat mendukung pertumbuhan karier. Beberapa manfaatnya termasuk membuka peluang, baik untuk karier baru ataupun kemajuan karier (30%).</p>



<p>&#8216;Loud Learning&#8217; juga memberikan kesempatan untuk mendapat mentor dan bimbingan dari para profesional berpengalaman (29%), dan memfasilitasi berbagai pengetahuan dan wawasan di antara rekan sejawat (25%).</p>



<p>&#8220;Menurut data LinkedIn, skills yang diperlukan untuk pekerjaan di Indonesia diperkirakan akan berubah sebesar 68% pada tahun 2030. Hal ini akan dipercepat oleh hadirnya AI generatif,&#8221; ucap <strong><u><a href="https://www.linkedin.com/in/serlarusli/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Serla Rusli, LinkedIn Career Expert</a></u></strong><em>.</em></p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-8765" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-1024x1024.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-300x300.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-150x150.jpg 150w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-768x768.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-1536x1536.jpg 1536w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-370x370.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-270x270.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-570x570.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-740x740.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8-120x120.jpg 120w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image002-8.jpg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Lebih lanjut, Serla menjelaskan bahwa hal itu merupakan peningkatan yang signifikan dari rata-rata global sebesar 50% yang diprediksi sejak tahun 2016. Sangat penting bagi para profesional untuk fokus pada pembelajaran dan peningkatan skills untuk melindungi karier mereka ke depan. </p>



<p>Diakui Serla bahwa ‘Loud Learning’ adalah trik hebat yang dapat digunakan untuk mengatasi tantangan dalam meluangkan waktu untuk belajar. Dengan ‘Loud Learning’, para profesional dapat menginspirasi orang lain untuk meluangkan waktu demi mengembangkan keterampilan.</p>



<p>LinkedIn juga memperkenalkan tools Premium baru yang didukung AI untuk membantu para profesional mempercepat perjalanan mereka dalam belajar. Fitur coaching baru dari LinkedIn Learning yang didukung AI dapat membantu memandu para profesional saat mengambil kursus.</p>



<p>Dengan bantuan fitur ini mereka bisa meminta ringkasan konten atau klarifikasi pertanyaan, sehingga para profesional bisa mendapatkan wawasan dan pelajaran langsung secara real-time dari halaman kursus. </p>



<p>LinkedIn juga sedang menguji fitur untuk meminta saran dari ahli, didukung oleh AI, yang memungkinkan para profesional berinteraksi via <em>chat</em> yang mudah digunakan bersama instruktur terpilih dan segera menerima saran terpersonalisasi yang bermanfaat.</p>



<p>Selain itu, LinkedIn juga telah membuka akses gratis ke beberapa LinkedIn Learning Courses, termasuk pembelajaran yang berfokus pada AI seperti <a href="https://www.linkedin.com/learning/paths/building-ai-literacy" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Building AI Literacy</a> dan <a href="https://www.linkedin.com/learning/paths/advance-your-skills-in-deep-learning-and-neural-networks" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Advancing Your Skills in Deep Learning and Neural Networks</a>.</p>



<p>Akses gratis lainnya yang disediakan oleh LinkedIn untuk mendukung kemajuan karier para profesiaonal seperti <a href="https://www.linkedin.com/learning/beating-procrastination" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Beating Procrastination</a> dan <a href="https://www.linkedin.com/learning/project-management-foundations-15528659" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Project Management Foundation.</a> Adapun kursus ini akan tersedia hingga 8 Juli 2024.</p>



<p>Berikut adalah Tips dari LinkedIn Career Expert, Serla, tentang bagaimana para profesional dapat memprioritaskan dan menghabiskan waktu untuk belajar:</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-1024x1024.jpg" alt="" class="wp-image-8764" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-1024x1024.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-300x300.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-150x150.jpg 150w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-768x768.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-1536x1536.jpg 1536w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-370x370.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-270x270.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-570x570.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-740x740.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10-120x120.jpg 120w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/06/image003-10.jpg 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<ul>
<li><strong>Vokal dan alokasikan waktu untuk belajar</strong>: Untuk mengutamakan belajar, penting untuk bersuara dan secara sadar mengalokasikan waktu. <em>Block</em> jadwal di kalender adalah cara sederhana untuk berkomitmen dan memungkinkan orang lain melihat dedikasi Anda. Mulailah dengan mengalokasikan waktu sesaat, bahkan hanya 15 menit sehari, agar  Anda dapat tetap konsisten dan teratur dalam belajar.</li>



<li><strong>Berbagi <em>updates</em> tentang perjalanan belajar Anda di tempat kerja dan di LinkedIn</strong>: Mem-<em>posting</em> perjalanan belajar Anda dapat menginspirasi orang lain. Ceritakan kemajuan belajar Anda dan bagaimana Anda mengatasi hambatan dengan rekan kerja dan jaringan LinkedIn. Ini dapat memicu diskusi dan mungkin menginspirasi orang lain untuk juga meluangkan waktu untuk belajar.</li>



<li><strong>Mencari teman belajar (<em>Learning BFF</em>)</strong>: Seorang teman belajar yang suportif dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan, bertanggung jawab, dan berkesan. Bagikan wawasan dan saling mengingatkan terhadap komitmen belajar untuk tetap termotivasi sepanjang perjalanan belajar. Seorang teman belajar juga dapat membantu memperluas alat bantu belajar dengan memperkenalkan Anda pada alat-alat dan sumber daya baru.</li>



<li><strong>Manfaatkan AI untuk meningkatkan pengalaman belajar Anda</strong>: Bayangkan jika Anda menemukan seorang ahli di bidangnya dan berdiskusi tentang topik yang mereka kuasai seperti negosiasi, kesejahteraan, atau strategi bisnis. Fitur saran dari ahli baru LinkedIn, yang didukung oleh AI dan sedang diuji coba, memiliki kemampuan untuk memberikan Anda saran praktis yang personal langsung dari para pemimpin bisnis terkemuka dan pelatih di LinkedIn Learning.</li>



<li><strong>Bangun komunitas belajar</strong>: Terlibatlah dalam diskusi di <a href="https://www.linkedin.com/help/linkedin/answer/a544795" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Grup LinkedIn</a> &#8211; komunitas <em>online</em> di mana para profesional sejenis berkumpul untuk berbagi wawasan tentang berbagai topik. Anda juga dapat berkontribusi pada <a href="https://www.linkedin.com/help/linkedin/answer/a1413111" target="_blank" rel="noreferrer noopener">artikel kolaboratif</a> untuk pertukaran perspektif yang beragam lebih lanjut.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>83% Pekerja Profesional di Asia Pasifik Telah Memakai AI</title>
		<link>https://nativzen.com/2024/05/13/83-pekerja-profesional-di-asia-pasifik-telah-memakai-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 May 2024 04:07:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Technology]]></category>
		<category><![CDATA[ai]]></category>
		<category><![CDATA[artificial intelligence]]></category>
		<category><![CDATA[asia pasifik]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan buatan]]></category>
		<category><![CDATA[linkedin]]></category>
		<category><![CDATA[microsoft]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja profesional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=7359</guid>

					<description><![CDATA[Data terbaru menunjukkan bahwa karyawan di Asia Pasifik menggunakan AI untuk meningkatkan keterampilan mereka.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; Microsoft dan LinkedIn telah merilis&nbsp;<a href="https://aka.ms/WTI24" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Indeks Tren Kerja 2024</a>&nbsp;mengenai kondisi AI alias kecerdasan buatan di tempat kerja yang berjudul&nbsp;“AI di tempat kerja sudah hadir, sekarang masuk ke bagian yang sulit”.</p>



<p>Penelitian ini didasarkan pada survei terhadap 31.000 orang di 31 negara, tren tenaga kerja dan perekrutan di LinkedIn, triliunan sinyal produktivitas Microsoft 365, serta penelitian terhadap pelanggan Fortune 500 yang menyangkut bagaimana AI memengaruhi cara orang bekerja.</p>



<p>Tahun 2024, AI begitu dimaksimalkan di tempat kerja. Penggunaan AI generatif di tempat kerja meningkat hampir dua kali lipat dalam enam bulan terakhir. LinkedIn melihat adanya peningkatan yang signifikan dalam jumlah profesional yang menambahkan keterampilan AI ke profil mereka.</p>



<p>Sebagian besar pemimpin perusahaan mengatakan bahwa mereka tidak akan mempekerjakan seseorang yang tidak memiliki keterampilan AI. Namun, banyak pemimpin di Asia khawatir bahwa perusahaan mereka kekurangan visi AI.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="494" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-1024x494.jpg" alt="" class="wp-image-7360" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-1024x494.jpg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-300x145.jpg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-768x371.jpg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-370x179.jpg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-270x130.jpg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-570x275.jpg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493-740x357.jpg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2024/05/3493.jpg 1500w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Di sisi lain, ada karyawan yang membawa tools AI mereka sendiri ke tempat kerja, pemimpin perusahaan berada di posisi yang sulit dari gangguan teknologi. Tentunya, hal itu dapat berdampak pada bisnis mereka.</p>



<p>Seperti dijelaskan oleh Ahmed Mazhari, President of Microsoft Asia bahwa perkembangan AI generatif di tempat kerja sangat luar biasa. Karyawan semakin cepat dan inovatif dalam mengadopsi teknologi ini, bahkan sebelum menunggu arahan dari perusahaan mereka. </p>



<p>&#8220;Terkait dengan perkembangan AI generatif yang begitu masif, para pemimpin perusahaan perlu lebih terbuka untuk mencoba dengan cepat agar bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam industri tempat mereka bekerja,&#8221; kata&nbsp;Mazhari.</p>



<p>Laporan Indeks Tren Kerja mengungkapkan tiga wawasan penting yang perlu diketahui oleh setiap pemimpin perusahaan dan profesional di Asia Pasifik mengenai bagaimana AI memengaruhi pekerjaan dan pasar kerja di tahun-tahun mendatang:</p>



<h3 class="wp-block-heading">Karyawan menginginkan AI di tempat kerja</h3>



<p>Di tempat kerja, sebanyak 83% profesional di Asia Pasifik telah menggunakan AI. Banyak dari mereka yang berjuang untuk mengimbangi kecepatan dan volume pekerjaan, mengatakan bahwa AI menghemat waktu, dan meningkatkan kreativitas.</p>



<p>Meskipun 84% pemimpin di Asia Pasifik percaya bahwa perusahaan mereka perlu mengadopsi AI agar tetap kompetitif, 61% khawatir bahwa kepemimpinan mereka tidak memiliki rencana dan visi untuk mengimplementasikannya. </p>



<p>Hal ini menjadi salah satu faktor karyawan mengambil inisiatif sendiri. 79% pekerja AI di Asia Pasifik membawa dan menggunakan tools AI generatif mereka sendiri ke tempat kerja, sehingga mereka kehilangan manfaat dari penggunaan AI dalam skala besar.</p>



<p>Selain itu, langkah yang mereka lakukan juga membahayakan data perusahaan. Padahal pemimpin perusahaan sebenarnya dapat memanfaatkan momentum AI ini sebagai investasi untuk jangka panjang.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Bagi karyawan, AI meningkatkan standar dan mendobrak batasan karier:</h3>



<p>Mayoritas pemimpin perusahaan di global (55%) khawatir tentang ketersediaan talenta yang cukup untuk mengisi berbagai posisi di tahun ini, terutama di bidang keamanan siber, teknik, dan desain kreatif.</p>



<p>Tercatat, 76% pemimpin peruasahaan di Asia Pasifik mengatakan bahwa mereka lebih memilih mempekerjakan kandidat yang kurang berpengalaman namun memiliki keterampilan AI daripada kandidat yang lebih berpengalaman namun tidak memiliki keterampilan tersebut.&nbsp;</p>



<p>Sejak akhir tahun lalu, LinkedIn juga telah melihat adanya peningkatan hingga 142x lipat, di mana membernya secara global telah menambahkan keterampilan AI, seperti ChatGPT dan Copilot ke profil LinkedIn mereka.</p>



<p>Penyebutan AI alias kecerdasan buatan dalam postingan lowongan kerja di LinkedIn juga meningkatkan pertumbuhan aplikasi sebesar 17%. Hal ini tentunya memberikan gambaran bahwa keterampilan AI memang benar-benar sangat dibutuhkan.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>Kebangkitkan pengguna AI, dan masa depannya</strong></h3>



<p>Pengguna AI dari Microsoft telah mengubah orientasi hari kerja mereka, menghemat 30 menit per hari. 88% pengguna di APAC menjalankan hari kerja mereka dengan AI, menggunakan AI untuk memulai pagi dan menyiapkan diri untuk hari kerja berikutnya.</p>



<p>&#8220;Kawasan Asia Pasifik benar-benar bisa menyaksikan perubahan transformatif di tempat kerja karena AI. Hal ini yang mendorong kebutuhan akan pendekatan bisnis yang baru,&#8221; kata&nbsp;Feon Ang, Managing Director, Asia Pacific, LinkedIn. &#8220;</p>



<p>Dengan pesatnya perkembangan ekosistem kita, para pemimpin yang memprioritaskan fleksibilitas dan berinvestasi dalam pengembangan keterampilan akan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan membina tenaga kerja yang siap menghadapi AI. </p>



<p>Sebanyak 76% pemimpin perusahaan di Asia Pasifik bersedia merekrut seseorang yang mungkin kurang berpengalaman dalam AI, namun memiliki kemauan untuk mengembangkan dirinya dengan keterampilan AI. </p>



<p>&#8220;Oleh karena itu, hal ini menekankan urgensi dan pentingnya bagi para profesional untuk fokus pada peningkatan kemampuan AI yang harus mereka miliki. Caranya, bisa di dapatkan melalui pelatihan dan keterampilan,&#8221; pungkas Feon Ang.&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
