<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pasar e-commerce &#8211; NativZen</title>
	<atom:link href="https://nativzen.com/tag/pasar-e-commerce/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://nativzen.com</link>
	<description>Berita gadget dan teknologi terbaru</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 May 2026 08:23:08 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.5.5</generator>

<image>
	<url>https://nativzen.com/wp-content/uploads/2025/02/cropped-NZ_icon_no_BG-32x32.png</url>
	<title>pasar e-commerce &#8211; NativZen</title>
	<link>https://nativzen.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Nilai Pasar E-commerce Asia Tenggara Melesat</title>
		<link>https://nativzen.com/2026/05/21/nilai-pasar-e-commerce-asia-tenggara-melesat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Eko Lanue Ardie]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 08:23:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[BUSINESS]]></category>
		<category><![CDATA[2c2p by antom]]></category>
		<category><![CDATA[asia tenggara]]></category>
		<category><![CDATA[pasar e-commerce]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://nativzen.com/?p=28783</guid>

					<description><![CDATA[Asia Tenggara akan menjadi pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia, dengan CAGR sebesar 13,2% sepanjang 2024–2029.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><strong>NATIVZEN.com</strong> &#8211; 2C2P by Antom telah merilis studi terbaru yang dilakukan oleh firma market intelligence IDC. Studi tersebut mengungkap bahwa pasar e-commerce Asia Tenggara terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat.</p>



<p>Bahkan diproyeksikan bahwa Asia Tenggara akan menjadi pasar e-commerce dengan pertumbuhan tercepat kedua di dunia, dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 13,2% sepanjang 2024–2029, hanya terpaut satu urutan di bawah India.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="536" src="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-1024x536.jpeg" alt="" class="wp-image-28784" srcset="https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-1024x536.jpeg 1024w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-300x157.jpeg 300w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-768x402.jpeg 768w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-370x194.jpeg 370w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-270x141.jpeg 270w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-570x298.jpeg 570w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential-740x387.jpeg 740w, https://nativzen.com/wp-content/uploads/2026/05/How-Southeast-Asia-Buys-and-Pays-2026-Unlocking-SMEs-Potential.jpeg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Dompet Digital dan Pembayaran Lokal Semakin Diminati di Asia Tenggara</strong></h4>



<p>Studi independen bertajuk <strong>“How Southeast Asia Buys and Pays 2026: Unlocking SMEs’ Potential” </strong>yang diinisiasi oleh 2C2P dan Antom menunjukkan bahwa nilai pasar e-commerce Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh 85,4% hingga mencapai US$ 289,8 miliar pada 2029.</p>



<p>Pembayaran digital diperkirakan akan mencakup 97% dari total transaksi e-commerce pada 2029, meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar 89%. Pertumbuhan terbesar diproyeksikan berasal dari pembayaran domestik serta dompet digital.</p>



<p>Pertumbuhan pembayaran digital di pasar e-commerce Asia Tenggara selama periode 2024–2029 diproyeksikan terjadi di berbagai metode pembayaran, di antaranya: </p>



<ul>
<li><strong>Pembayaran domestik diperkirakan tumbuh sebesar 104%</strong>, dari US$45,1 miliar pada 2024 menjadi US$92,0 miliar pada 2029. Hal ini diperkirakan menjadi kontributor terbesar dalam sektor pembayaran digital Asia Tenggara pada 2029 dengan alokasi sekitar 32%, sehingga menggantikan metode pembayaran menggunakan kartu.</li>



<li>Dompet digital<strong> diproyeksikan meningkat sebanyak 107%</strong>, dari US$38,2 miliar pada 2024 menjadi US$79,0 miliar pada 2029. Jumlah pengguna dompet digital terhadap pasar <em>e-commerce </em>juga diperkirakan naik dari 24% pada tahun 2024 menjadi 27% pada tahun 2029.</li>



<li><strong>Buy Now Pay Later (BNPL) diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 174%</strong>, dari US$6,9 miliar pada tahun 2024 menjadi US$18,9 miliar pada tahun 2029.</li>
</ul>



<p>Dengan masih adanya 56% populasi di kawasan yang belum memiliki akses kartu pembayaran, menurut World Bank, solusi pembayaran digital menjadi semakin relevan untuk menjawab tantangan struktural yang ada.</p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Kontribusi UMKM Diproyeksikan Capai  58%</strong></h4>



<p>Studi edisi  terbaru ini turut menghadirkan fokus baru pada UMKM sebagai salah satu tulang punggung pertumbuhan ekonomi kawasan dan pelaku yang semakin aktif dalam ekonomi digital, meski masih belum banyak terwakili dalam analisis terkait pembayaran dan e-commerce. </p>



<p>Studi ini melibatkan 600 responden UMKM di enam negara Asia Tenggara — Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam — untuk memahami prioritas bisnis, adopsi pembayaran digital, serta kesiapan mereka dalam menghadapi tren pembayaran masa depan.</p>



<p>Survei menunjukkan bahwa 66% UMKM di wilayah Asia Tenggara kini telah berjualan secara <em>online</em>, menunjukkan adanya peningkatan partisipasi dalam ekonomi digital. Namun, tingkat kematangan digital masih belum merata. </p>



<p>Sekitar sepertiga responden UMKM masih sangat bergantung pada transaksi tunai dalam operasional sehari-hari, termasuk di pasar yang relatif lebih maju seperti Singapura. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha.</p>



<p>Tantangan tersebut mulai dari kompleksitas integrasi sistem, kekhawatiran terhadap fraud, biaya yang tinggi, hingga keterbatasan infrastruktur. Tentu saja, tantangan tersebut juga berbeda di tiap negara.</p>



<p>Mulai dari isu infrastruktur dan konektivitas di Indonesia dan Filipina, kekhawatiran terkait keamanan dan integrasi di Singapura dan Vietnam, hingga tekanan biaya dan regulasi di Malaysia dan Thailand, yang pada akhirnya membatasi kemampuan UMKM</p>



<p>Sebanyak 63% responden juga menyatakan bahwa sistem pembayaran yang mereka gunakan saat ini membutuhkan peningkatan atau pembaruan agar dapat mendukung tren pembayaran yang terus berkembang.</p>



<p>Meski baru 49% UMKM yang saat ini menjalankan bisnis lintas negara, sekitar tiga dari empat responden mengaku berencana untuk melakukan ekspansi internasional dalam dua tahun ke depan. </p>



<p>IDC memperkirakan bahwa peningkatan partisipasi UMKM dalam e-commerce lintas negara berpotensi membuka tambahan nilai penjualan hingga US$20,8 miliar pada 2029, atau setara dengan peningkatan 7,1% terhadap nilai e-commerce kawasan.</p>



<p>“Di tengah pertumbuhan pesat pasar e-commerce Asia Tenggara, 2C2P by Antom berkomitmen membantu bisnis dari berbagai skala,&#8221; ujar Worachat Luxkanalode, Group CEO of 2C2P by Antom melalui rilis yang diterima nativzen.com.</p>



<p>Ia menambahkan bahwa pelaku usaha di Asia Tenggara, khususnya UMKM, memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi kawasan, yakni berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB di sejumlah pasar utama dan menyerap 64,6% tenaga kerja.</p>



<p>“Melalui platform pembayaran enterprise kami, pelaku usaha dapat mengatasi tantangan tersebut melalui satu integrasi API, sekaligus membuka peluang baru dan berpartisipasi lebih optimal dalam ekonomi digital Asia Tenggara yang terus berkembang.” Lanjut Luxkanalode.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
