NativZen
Advertising Area

Wamen Ekraf: Desainer Masa Depan Tak Cukup Hanya Jago Desain

Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan, tetapi juga perlu menjadi ruang untuk menguji gagasan.

Advertising Area

NATIVZEN.com – Perkembangan teknologi dan industri kreatif yang semakin dinamis menuntut desainer memiliki kompetensi yang lebih luas. Kemampuan memahami AI, kepemimpinan, bisnis, kekayaan intelektual, budaya, hingga kemampuan menciptakan dampak menjadi bagian penting dalam mempersiapkan talenta desain menghadapi masa depan.

Hal tersebut disampaikan Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, dalam sesi Designpreneur Meet Ekraf: Peluang Kolaborasi di Era Convergence yang menjadi bagian dari rangkaian MODB 2026: First Wave – The Convergence of Design, Sabtu (22/8), di BINUS International @FX Sudirman, Jakarta.

MODB 2026 diselenggarakan oleh Master of Design BINUS UNIVERSITY pada 19–22 Agustus 2026 dengan mengangkat tema The Convergence of Design. Agenda ini untuk pertama kalinya mempertemukan karya, gagasan, dan inovasi para Master Designer dengan industri, praktisi, investor, pemerintah, serta masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan terdiri dari MODB Thesis Exhibition, MODB Innovation Talks, dan MODB Design Dealing Room. Menurut Irene, perubahan kebutuhan industri tersebut perlu direspons sejak dari lingkungan pendidikan.

Ia mengatakan bahwa kampus tidak cukup hanya menjadi tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan, tetapi juga perlu menjadi ruang untuk menguji gagasan, bereksperimen, membuat prototipe, dan mengembangkan keberanian untuk berinovasi.

“Kampus harus jadi sandbox, ruang aman di mana mahasiswa boleh bertanya semua hal, membuat prototipe yang gagal, dan mencoba ide yang belum pernah ada tanpa takut dihakimi,” ujar Irene.

Menurutnya, pengalaman bereksperimen dan belajar dari kegagalan merupakan bagian penting dalam membangun talenta kreatif yang mampu menghadapi perubahan. Proses tersebut juga perlu didukung oleh ekosistem yang memungkinkan mahasiswa dan para pelaku kreatif bekerja sama, menguji gagasan, serta mengembangkan inovasi secara berkelanjutan.

Karena itu, penguatan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan. Dalam kerangka Hexahelix, pemerintah, akademisi, bisnis, lembaga keuangan, komunitas atau asosiasi, serta media memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif.

Kolaborasi tersebut juga perlu diterapkan dalam proses berkarya. Desainer dituntut terbuka terhadap perspektif dan keahlian dari bidang lain. Dengan bekerja lintas disiplin, sebuah gagasan dapat dikembangkan tidak hanya dari sisi konsep dan estetika, tetapi juga dari aspek teknologi, bisnis, budaya, hingga kebutuhan masyarakat.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kompetensi yang perlu diperkuat pada talenta kreatif masa depan, antara lain AI literacy, leadership and systemic thinking, intellectual property (IP) readiness, cultural intelligence, serta designing impact.

Dengan kompetensi tersebut, desain dapat mengambil peran yang lebih luas: bukan sekadar menghasilkan karya visual, tetapi memahami persoalan, merumuskan solusi, menghubungkan berbagai perspektif, dan menciptakan dampak yang relevan bagi masyarakat maupun industri.

MODB Hadir sebagai Ruang Konvergensi Desain

Gagasan mengenai desain yang semakin lintas disiplin tersebut juga menjadi salah satu konteks yang melatarbelakangi adanya penyelenggaraan MODB 2026: First Wave – The Convergence of Design.

Sebagai bagian utama dari rangkaian kegiatan, MODB Thesis Exhibition menampilkan beberapa karya tugas akhir mahasiswa Master of Design BINUS UNIVERSITY dari angkatan pertama dan kedua.

Angkatan pertama menyelesaikan studi dan diwisuda pada Desember 2025, sementara angkatan kedua diwisuda pada Agustus 2026. Karya-karya tersebut merepresentasikan proses riset, eksplorasi, eksperimen, dan pengembangan gagasan dalam merespons berbagai persoalan serta isu kontemporer.

Sementara itu, MODB Innovation Talks mempertemukan perspektif praktisi, investor, dan pemerintah mengenai perkembangan desain dan industri kreatif. Rangkaian diskusi menghadirkan Stephen Ng, CEO WIR Group; Richie Wirjan, Investor & Corporate Venture Builder; serta Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI.

Stephen Ng membahas pentingnya landasan filosofis dalam desain serta penggunaan teknologi secara beretika dengan menempatkan empati terhadap manusia sebagai bagian dari proses desain.

Richie Wirjan menyoroti peluang desainer untuk mengambil peran sebagai designpreneur, di mana pemahaman terhadap aspek bisnis menjadi penting agar karya desain tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat dikembangkan dan dibawa ke pasar yang lebih luas.

Adapun MODB Design Dealing Room menjadi ruang yang mempertemukan para Master Designer dengan stakeholder eksternal dan mitra industri. Melalui ruang ini, karya dan inovasi yang lahir dari lingkungan akademik diharapkan dapat dikembangkan lebih jauh melalui kolaborasi, implementasi, maupun potensi investasi.

Dr. Ferric Limano, Head of Department Master of Design BINUS Graduate Program, mengatakan MODB dirancang sebagai ruang temu antara gagasan, pemikiran, dan inovasi desain dengan berbagai pemangku kepentingan.

“MODB kami hadirkan sebagai ruang temu antara gagasan, pemikiran, dan inovasi dengan masyarakat. Dari rangkaian diskusi selama empat hari ini, terlihat bahwa desain membutuhkan teknologi yang beretika, pemahaman bisnis yang kuat, serta kolaborasi lintas disiplin agar dapat berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujar Ferric.

Hal tersebut juga sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Ir. Ford Lumban Gaol, S.Si., M.Kom., SMIEEE, Direktur BINUS Graduate Program, yang menilai desain saat ini memiliki peran yang lebih luas dari sekadar menghasilkan sebuah karya visual.

“Teknologi dan kreativitas itu menjadi sesuatu yang sangat powerful sebagai bagian dari pencerahan dari sisi kemanusiaan. Bagaimana akulturasi budaya yang dicampurkan dalam bentuk kreativitas. Kita juga bisa masuk ke konteks yang disebut virtual aset yang sangat menjual dan dapat dimonetisasi,” ujar Prof. Ford.

Dari Eksplorasi Desain hingga Pasar Global: Kisah di Balik Amarta

Konsep The Convergence of Design tidak berhenti pada diskusi. Salah satu contoh konkretnya datang dari karya alumni Master of Design BINUS UNIVERSITY, Amarta: Kingdom of Shadows, sebuah strategy simulation game karya Ronald Jaya Setiawan yang turut diperkenalkan dalam rangkaian MODB 2026.

Terinspirasi dari kisah Wayang Babad Wanamarta, Amarta mengajak pemain membangun kerajaan baru dari sebuah hutan terlarang, mengumpulkan sumber daya, melindungi masyarakat, dan mengembangkan wilayah.

Pengembangannya menggunakan pendekatan Design Thinking, mulai dari memahami pemain dan ekspektasinya, mengeksplorasi ide, membangun prototipe, hingga melakukan playtesting dan penyempurnaan berdasarkan masukan pengguna.

Amarta juga menjadikan budaya sebagai bagian dari pengalaman bermain. Unsur budaya Indonesia dihadirkan melalui eksplorasi, gameplay, dan visual storytelling, sehingga budaya tidak hanya menjadi objek yang dipelajari, tetapi menjadi bagian dari pengalaman pemain.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana desain dapat menjadi titik temu antara budaya, teknologi, dan kebutuhan pasar. Berangkat dari kisah budaya Indonesia, Amarta dikembangkan menjadi karya digital yang dirancang untuk dapat dinikmati oleh pemain lokal maupun internasional.

Amarta mendapat dukungan Dana Indonesiana, program pendanaan pemerintah Indonesia yang mendukung kreator dalam mengembangkan karya inovatif berbasis budaya lokal, dan direncanakan hadir melalui platform Steam untuk menjangkau pemain dari berbagai negara.

Perjalanan Amarta menjadi salah satu gambaran bagaimana proses pembelajaran dan eksplorasi desain di Master of Design BINUS UNIVERSITY dapat berkembang menjadi karya nyata yang bisa dilihat secara langsung.

Pendekatan ini sejalan dengan upaya program mempersiapkan lulusan tidak hanya sebagai desainer, tetapi juga sebagai Advanced Designpreneur yang mampu mengembangkan solusi berbasis desain sekaligus melihat peluang penciptaan nilai (value creation) di industri.

Pada akhirnya, semangat The Convergence of Design yang diusung MODB tidak hanya berbicara mengenai pertemuan berbagai disiplin, tetapi juga bagaimana pertemuan tersebut dapat menghasilkan karya dan dampak.

Dari kampus sebagai sandbox, gagasan dapat diuji; melalui kolaborasi, gagasan dapat berkembang; dan melalui karya seperti Amarta, desain dapat menemukan relevansinya di tengah masyarakat dan pasar global.

Melalui MODB 2026, BINUS UNIVERSITY menegaskan komitmennya untuk terus mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan ekosistem ekonomi kreatif.

Dengan memperkuat kemampuan lintas disiplin, pemanfaatan teknologi yang beretika, pemahaman bisnis, serta keberanian untuk bereksperimen, talenta desain diharapkan mampu berkembang menjadi kreator dan designpreneur yang tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menciptakan nilai dan dampak bagi masyarakat.

Avatar photo

Eko Lanue Ardie

co-Founder & Pimpinan Redaksi nativzen (www.nativzen.com); Jurnalis di industri teknologi dan gadget yang sudah berkecimpung sejak 2010.

Advertising Area
Advertising Area

Your Header Sidebar area is currently empty. Hurry up and add some widgets.