NATIVZEN.com – Inovasi teknologi bergerak semakin cepat. Setiap tahun, Samsung menghadirkan lini flagship yang membawa terobosan baru. Setiap kali kita memegang perangkat flagship, ada impresi kuat tentang sebuah standar kelas tertinggi.
Inilah sebuah pengalaman “S-Class” yang identik dengan performa terdepan, kualitas tanpa kompromi, dan teknologi paling intuitif. Samsung juga ingin memperluas akses pengalaman flagship ini ke lebih banyak orang.
“Ini bukan tentang menurunkan standar, melainkan tentang membawa esensi inovasi terbaik ke dalam genggaman lebih banyak masyarakat. Nilai sebuah inovasi dilihat dari seberapa luas manfaatnya dapat dirasakan,” ucap Harry Lee, President of Samsung Electronics Indonesia.

Lebih lanjut ia juga mengatakan bahwa teknologi AI pun demikian. AI harus hadir sebagai alat yang mempermudah langkah dan melancarkan aktivitas harian setiap orang. Lebih dari 90% pengguna perangkat flagship Samsung di Indonesia telah memanfaatkan fitur Galaxy AI.
“Hal itu menunjukkan bahwa AI semakin bergeser dari sesuatu yang baru menjadi bagian dari pengalaman smartphone sehari-hari. Konsumen tidak lagi hanya melihat AI sebagai sebuah fitur, tetapi semakin mencari manfaat nyata dalam mendukung aktivitasnya,” tambah Lee.
Galaxy AI Membuka Lebih Banyak Ruang untuk Berkreasi
Bagi generasi muda yang gemar mengekspresikan diri, smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan studio kreatif berjalan tempat ide-ide baru dilahirkan. Namun, potensi kreatif tersebut sering kali masih berhadapan dengan hambatan teknis.
Bagi Samsung, kreativitas dan produktivitas seharusnya tidak dibatasi oleh kompleksitas teknis. Karena itu, Galaxy S26 FE membawa 47 fitur AI flagship yang dirancang intuitif untuk mendukung aktivitas harian, termasuk inovasi seperti MyFanCam.
Fitur tersebut hadir untuk memudahkan pengguna menangkap dan menonjolkan subjek foto atau video secara cepat dan spontan. Itulah bukti bahwa teknologi dapat bekerja secara intuitif tanpa membebani pengguna dengan langkah-langkah manual yang rumit.
Dengan begitu, ruang bereksperimen dan berekspresi bisa terbuka lebar secara bebas. Pengalaman tersebut juga dilengkapi dengan Super Steady dengan Horizontal Lock yang membantu menjaga rekaman video tetap stabil meskipun pengguna sedang bergerak.
Tak ketinggalan, Photo Assist yang menyederhanakan proses editing melalui perintah dalam bahasa sehari-hari. Ketiganya berangkat dari satu pemahaman yang sama, yaitu teknologi seharusnya bekerja secara intuitif tanpa membebani pengguna.
Dengan kata lain, Samsung ingin membuktikan bahwa kehadiran fitur-fitur cerdas tersebut mampu menghilangkan langkah-langkah manual yang rumit, dan di situlah ruang bereksperimen serta berekspresi terbuka lebar secara bebas.
“Evolusi teknologi semakin cepat, namun kami berharap pengguna dapat menikmati kemajuan teknologi lebih lama dari saat pertama kali kotak perangkat dibuka. Inilah komitmen yang kami berikan kepada pengguna Galaxy S26 FE,” ucap Lee.
Ia menambahkan bahwa komitmen tersebut dibuktikan melalui pembaruan sistem operasi hingga tujuh generasi ke depan dan sekuriti hingga 7 tahun menjadi sangat krusial. Tentunya, langkah ini bukan sekadar tentang angka dalam lembar spesifikasi.
Komitmen tersebut juga menjadi upaya Samsung untuk memberikan kenyamanan kapanpun mereka ingin berganti perangkat, tidak perlu khawatir keamanannya berkurang atau fiturnya tertinggal seiring waktu.
Value sebuah smartphone juga terlihat dari bagaimana pengguna dapat terus memaksimalkan inovasi di dalamnya dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, melalui Galaxy S26 FE raksasa elektronik asal Korea Selatan ini ingin membawa kekuatan utama Galaxy S ke lebih banyak konsumen.
“Dengan membuka pintu ekosistem flagship ke lebih banyak orang, serta menempatkan manusia dan kebermanfaatan jangka panjang sebagai pusat pengembangan, kami tidak hanya menciptakan teknologi yang lebih canggih, tetapi juga masa depan digital yang lebih inklusif, bermakna, dan berkelanjutan,” pungkas Lee.






