NATIVZEN.com – Era smartphone murah dengan spesifikasi semakin tinggi tampaknya menghadapi tantangan serius. Lonjakan harga chip memori DRAM dan NAND membuat biaya produksi ponsel entry-level melonjak.
Bahkan analis menilai smartphone di bawah US$ 100 semakin sulit diproduksi secara menguntungkan. Kondisi ini bukan sekadar soal harga komponen yang naik. Industri smartphone kini menghadapi perubahan struktur biaya yang berpotensi membuat smartphone murah semakin langka dan lebih mahal di pasaran.
Menurut laporan yang dirilis oleh South China Morning Post (SCMP), biaya memori untuk smartphone dengan harga di bawah US$ 100 diperkirakan melonjak hingga 400 persen pada kuartal III 2026.

Berdasarkan data Omdia yang dikutip SCMP, biaya memori untuk konfigurasi smartphone paling umum di kelas tersebut dapat mencapai sekitar US$70, naik drastis dari hanya US$14 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
AI Jadi Salah Satu Pemicu Krisis Memori
Lonjakan harga tersebut tidak terjadi begitu saja. Industri teknologi saat ini sedang berlomba membangun infrastruktur AI dalam skala besar. Data center membutuhkan DRAM dan NAND dalam jumlah sangat besar, sehingga terjadi perebutan pasokan antara perusahaan AI, server, PC, dan produsen smartphone.
Akibatnya, produsen smartphone—terutama yang bermain di segmen harga murah—memiliki ruang yang semakin sempit untuk menanggung kenaikan biaya komponen. Omdia sebelumnya mencatat bahwa harga DRAM dan NAND telah meningkat tajam dalam beberapa kuartal terakhir.
Kondisi tersebut membuat biaya memori menyumbang hampir 60 persen dari total bill of materials (BOM) smartphone dengan harga di bawah US$ 400 pada kuartal pertama 2026. Untuk perangkat di bawah US$ 99, porsinya bahkan melampaui 64 persen.
Dengan margin keuntungan yang tipis, produsen tentunya akan sulit mempertahankan harga jual tanpa melakukan perubahan strategi.
Smartphone di Bawah US$ 100 Jadi Segmen Paling Terpukul
Jusy Hong, Senior Research Manager Omdia, menilai kenaikan harga memori membuat produksi smartphone di bawah US$100 secara menguntungkan menjadi sangat sulit. Bahkan, menurutnya, segmen tersebut pada dasarnya sedang menghilang dari pasar untuk sementara waktu.
Bayangkan sebuah smartphone yang dijual dengan harga sangat terjangkau. Produsen harus membayar layar, chipset, kamera, baterai, bodi, konektivitas, distribusi, hingga pemasaran. Kini, hanya komponen memori saja yang menyedot porsi biaya jauh lebih besar.
Artinya, produsen hanya memiliki beberapa pilihan: menaikkan harga, memangkas spesifikasi, atau menghentikan produk tersebut.
Produsen Bisa Mengurangi RAM dan Storage
Dampaknya kemungkinan tidak selalu langsung terlihat dalam bentuk kenaikan harga. Salah satu strategi yang dapat dilakukan produsen adalah mengurangi kapasitas RAM dan penyimpanan internal.
Omdia juga mencatat bahwa tekanan biaya telah mendorong para vendor untuk memangkas atau membekukan peningkatan kapasitas memori pada smartphone kelas bawah dan menengah yang dikembangkan.
Sebaliknya, perangkat premium masih mendapatkan peningkatan RAM dan storage karena konsumen di kelas tersebut relatif lebih mampu menerima kenaikan harga. Fenomena ini menciptakan polarisasi baru di pasar smartphone.
Smartphone flagship semakin powerful dengan RAM dan storage besar, sementara smartphone murah justru berpotensi mendapatkan spesifikasi yang lebih konservatif. Dengan kata lain, tren “RAM makin besar, storage makin lega” pada smartphone murah bisa mulai melambat.
Smartphone Murah Bisa Semakin Mahal
Jika produsen tidak ingin memangkas spesifikasi, pilihan lainnya adalah menaikkan harga jual. Masalahnya, konsumen kelas entry-level biasanya sangat sensitif terhadap harga. Kenaikan beberapa ratus ribu rupiah saja dapat membuat konsumen mempertimbangkan produk lain atau menunda pembelian.
Omdia juga memperkirakan bahwa pengiriman smartphone dengan harga di bawah US$ 400 secara global dapat mengalami penurunan lebih dari 22 persen pada 2026 akibat tekanan biaya memori.
Sementara itu, produsen smartphone juga memiliki insentif lebih besar untuk mengalihkan fokus ke perangkat kelas menengah dan premium yang memberikan margin keuntungan lebih baik. Strategi tersebut berpotensi mendorong harga rata-rata smartphone global semakin tinggi.
Efeknya Mulai Terasa di Industri Smartphone
Tekanan biaya memori bukan hanya teori. Xiaomi, misalnya, melaporkan penurunan laba bersih yang disesuaikan sebesar 42,6 persen pada kuartal II 2026. Perusahaan menyebut tingginya biaya memori dan komponen ikut menekan margin bisnis smartphone.
Pendapatan smartphone Xiaomi juga turun 7,5 persen, sementara pengirimannya merosot 26 persen. Samsung juga menghadapi tekanan serupa. Ketika meluncurkan generasi terbaru smartphone lipat pada Juli 2026, perusahaan menaikkan harga sejumlah model.
Sementara analis mengaitkan tekanan biaya memori dengan tantangan terhadap profitabilitas bisnis mobile. Ini menunjukkan bahwa masalah memori sudah menjalar ke berbagai lapisan industri, bukan hanya produsen smartphone kelas bawah.
Lalu, Bagaimana dengan Smartphone Rp1 Jutaan di Indonesia?
Bagi konsumen Indonesia, situasi ini patut diperhatikan. Pasar smartphone entry-level Indonesia masih sangat bergantung pada perangkat dengan harga terjangkau. Brand seperti Xiaomi, Samsung, TECNO, Infinix, itel dan sebagainya bersaing ketat menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga agresif.
Kenaikan biaya memori dapat membuat formula tersebut semakin sulit dipertahankan. Bukan tidak mungkin konsumen nantinya menghadapi pilihan seperti harga tetap tetapi RAM/storage dipangkas, atau spesifikasi tetap tetapi harga naik.
Bahkan, beberapa kenaikan harga smartphone di Indonesia sudah terjadi sepanjang 2026, terutama pada model entry-level dan mid-range, dengan kenaikan yang dikaitkan antara lain dengan meningkatnya biaya komponen DRAM dan NAND.
Bukan Berarti Smartphone Murah akan Punah Selamanya
Ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: kondisi ini tidak berarti smartphone murah akan hilang selamanya. Omdia menilai segmen ultra-low-cost berpotensi kembali ketika harga memori mulai stabil.
Pemain yang lebih kecil di pasar lokal kemungkinan dapat kembali untuk memasuki segmen tersebut ketika tekanan pasokan sudah mereda. Persoalannya adalah kapan harga memori akan kembali normal?
Selama permintaan AI alias kecerdasan buatan dan data center terus menyerap kapasitas produksi memori, produsen smartphone tentunya harus bisa beradaptasi dengan realitas baru tersebut.
Era Baru Smartphone: Murah, tapi Tidak Semurah Dulu?
Pada akhirnya, perang smartphone murah mungkin sedang memasuki babak baru. Jika sebelumnya produsen berlomba menawarkan RAM lebih besar, storage lebih luas, kamera lebih banyak, dan chipset lebih kencang dengan harga semakin murah, kini tantangannya berbeda.
Justru para produsen smartphone harus bisa berpikir bagaimana mempertahankan harga sambil menghadapi biaya produksi yang meningkat. Bagi konsumen, efeknya cukup sederhana: Smartphone murah mungkin masih ada, tetapi mendapatkan spesifikasi tinggi dengan harga sangat rendah bisa menjadi semakin sulit.
Dan ironisnya, semua ini terjadi ketika AI justru semakin membutuhkan memori dalam jumlah besar. Jadi, jika beberapa tahun lalu pertanyaannya adalah “Smartphone murah mana yang paling worth it?”, dalam beberapa waktu ke depan pertanyaannya bisa berubah menjadi:
“Masih ada nggak smartphone murah dengan RAM dan storage besar?”







